JAKARTA, Cobisnis.com - Perusahaan minyak Amerika Serikat (AS), North American Blue Energy Partners (NABEP), akan mengambil alih sejumlah proyek minyak di Venezuela yang sebelumnya dikelola perusahaan asal China dan Rusia.
Pengambilalihan tersebut menjadi bagian dari kesepakatan produksi minyak berskala besar antara Washington dan Caracas yang diumumkan Presiden AS Donald Trump.
Menurut dua pejabat AS yang dikutip Reuters, pemerintah Venezuela memberikan 14 kontrak baru kepada NABEP. Dengan tambahan tersebut, perusahaan yang dikendalikan pengusaha Venezuela Alejandro Betancourt itu diperkirakan mengelola total 17 proyek minyak di Venezuela.
Dari 14 proyek baru tersebut, lima sebelumnya dioperasikan perusahaan China dan satu lainnya pernah dikelola perusahaan Rusia. Dua proyek sebelumnya berada di bawah China Concord Resources, yang dikenai sanksi AS pada 2019 terkait aktivitasnya di Iran. Proyek lainnya pernah dikelola Sinopec dan China National Petroleum Corp.
Seorang pejabat AS mengatakan pengambilalihan tersebut juga membuka akses pasar AS bagi minyak Venezuela yang sebelumnya dikirim ke China.
NABEP akan memperoleh hak pengelolaan selama 100 tahun atas ladang-ladang dengan cadangan terbukti sekitar 65 miliar barel. Dalam kesepakatan itu, pemerintah AS mendapat 35% saham di perusahaan induk NABEP, hak membeli 20% produksi dengan harga pokok, serta hak penolakan pertama atas 80% produksi lainnya.
AS juga memiliki hak veto di Dewan NABEP, sementara mayoritas anggota dewan harus merupakan warga negara AS.
NABEP menyatakan akan menginvestasikan hingga US$100 miliar untuk pembangunan infrastruktur minyak baru. Betancourt mengatakan Venezuela memiliki "kelimpahan sumber daya alam, masyarakat yang pekerja keras, dan potensi yang belum dimanfaatkan".
Menurut Betancourt, kesepakatan tersebut akan "membuka potensi tersebut demi manfaat besar bagi rakyat Venezuela dan Amerika."
Namun, Washington masih perlu menarik perusahaan minyak besar untuk meningkatkan produksi. ExxonMobil dan ConocoPhillips sebelumnya meninggalkan Venezuela pada 2007 setelah aset mereka dinasionalisasi.
ExxonMobil dan ConocoPhillips juga menekankan pentingnya kepastian hukum dan penghormatan terhadap kontrak sebelum kembali berinvestasi.
Trump menyatakan Exxon akan masuk ke Venezuela, meski ExxonMobil menolak berkomentar. Sementara itu, ConocoPhillips mengatakan keputusan investasi akan mempertimbangkan stabilitas kebijakan serta kepatuhan terhadap supremasi hukum.
Alejo Czerwonko dari UBS menilai keterlibatan perusahaan besar diperlukan untuk memulihkan sektor minyak Venezuela.
"Anda membutuhkan investasi dan keahlian yang besar dari perusahaan seperti Exxon dan ConocoPhillips," katanya. "Bagaimana Anda menarik perusahaan-perusahaan tersebut ke negara tersebut?"
Analis Rystad Energy Radhika Bansal juga menyoroti ketidakjelasan dalam struktur kesepakatan tersebut.
"Masih banyak hal yang belum diketahui, dan ada unsur-unsur yang membingungkan," katanya.
Struktur kesepakatan turut memicu kekhawatiran perusahaan minyak yang mempertimbangkan investasi di Venezuela. Betancourt pernah diselidiki otoritas AS dan Eropa terkait transaksi dengan pemerintah Venezuela, meski tidak pernah didakwa. Ia sebelumnya membantah tuduhan tersebut.
"Perusahaan-perusahaan minyak besar dan perusahaan asing besar yang sedang menegosiasikan migrasi kontrak ingin memastikan mereka tidak akan duduk di meja yang sama dengan Betancourt," kata seorang sumber yang terlibat dalam persiapan penandatanganan kontrak energi.
Sumber Reuters juga menyebut struktur kesepakatan dapat membuat perusahaan minyak AS bersaing langsung dengan pemerintah AS di Venezuela. Meski demikian, Chevron, Eni, ONGC, GeoPark, dan GE Vernova dijadwalkan tetap menandatangani kesepakatan energi di Venezuela yang terpisah dari perjanjian NABEP.
Trump mengakui dampak kesepakatan terhadap harga bahan bakar tidak akan langsung terasa.
"Mungkin akan sedikit lama," katanya, menanggapi perkiraan bahwa pemulihan sektor minyak Venezuela dapat membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Di Kongres AS, Senator Jack Reed meminta penjelasan mengenai dasar hukum kesepakatan tersebut dan menolak penggunaan militer AS untuk berinvestasi dalam usaha minyak swasta.
Sementara itu, Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez mendukung kesepakatan tersebut sebagai peluang untuk memodernisasi industri minyak dan menegaskan kedaulatan Venezuela tetap terjaga.