Bandara Riyadh Dihantam Rudal, 12 Orang Tewas dan 309 Luka

Oleh Hidayat Taufik pada 11 Oct 2026, 13:34 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com — Bandara Internasional Riyadh, Arab Saudi, dilaporkan kembali menjadi sasaran serangan rudal yang diduga dilancarkan kelompok Houthi dari Yaman. Insiden tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 12 orang dan menyebabkan 309 lainnya mengalami luka-luka.

Mengutip AFP, Minggu (11/10/2026), informasi mengenai jumlah korban disampaikan melalui pernyataan otoritas penerbangan sipil. Serangan ini kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap situasi keamanan di Arab Saudi, khususnya di kawasan bandara internasional tersebut.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa pemerintahannya tengah mempertimbangkan kemungkinan ikut serta dalam operasi militer Arab Saudi terhadap kelompok Houthi yang didukung Iran.

Trump menyampaikan pernyataan tersebut setelah menerima informasi mengenai serangan terbaru di Bandara Riyadh.

"Kami mungkin akan melakukannya. Kami akan mempertimbangkannya. Kami baru saja mengetahui tentang serangan terkini itu, jadi kami akan mengambil keputusan," ujar Trump kepada para wartawan di Gedung Putih, dikutip dari berbagai sumber, Minggu (11/10/2026).

"Kami bertindak sangat cepat," lanjutnya.

Sementara itu, sejumlah kedutaan besar negara asing di Arab Saudi mengeluarkan peringatan keamanan kepada warga negara masing-masing. Inggris, Kanada, Jerman, Spanyol, dan Amerika Serikat meminta warganya menjauhi Bandara Riyadh serta mengikuti arahan otoritas setempat.

Kedutaan Besar Spanyol melalui platform X juga menyampaikan imbauan untuk menghindari kawasan bandara menyusul laporan serangan terbaru yang dikaitkan dengan kelompok Houthi. Sebelumnya, sejumlah saksi mata mengatakan kepada AFP bahwa perintah evakuasi telah dikeluarkan di lokasi tersebut.

Dalam laporan terpisah, seorang sumber diplomatik mengatakan kepada AFP bahwa rudal menghantam Bandara Internasional Riyadh sekitar pukul 12.00 waktu setempat.

Perkembangan ini menambah ketegangan keamanan di kawasan Timur Tengah. Kemungkinan keterlibatan Amerika Serikat dalam operasi militer Arab Saudi juga menjadi perhatian di tengah meningkatnya ancaman terhadap fasilitas strategis di wilayah tersebut.