Dampak Perang Timur Tengah: Dunia Dipaksa Irit Energi, Harga Melonjak!

Oleh Hidayat Taufik pada 22 Mar 2026, 15:05 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Ketegangan di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah menimbulkan gangguan serius terhadap pasokan energi dunia. Situasi ini membuat banyak negara menghadapi dilema besar: menanggung lonjakan harga energi atau mengurangi pemakaian.

Salah satu dampak utama dari konflik ini adalah terganggunya jalur distribusi energi penting seperti Selat Hormuz, yang selama ini menjadi rute bagi sekitar 20% suplai minyak dan gas global. Selain itu, serangan terhadap infrastruktur energi seperti kilang minyak dan fasilitas gas turut memperparah penurunan pasokan.

Akibatnya, harga energi mengalami kenaikan tajam hingga sekitar 50%. Harga minyak dunia bahkan melampaui US$110 per barel, sementara beberapa jenis minyak dari kawasan Timur Tengah hampir menyentuh US$164 per barel.

Badan Energi Internasional (IEA) menyebut kondisi ini sebagai salah satu krisis energi paling parah dalam sejarah, bahkan melampaui krisis minyak pada era 1970-an. Para analis menilai bahwa upaya penghematan saja tidak akan cukup menahan dampaknya, karena harga yang tinggi akan secara alami menekan konsumsi masyarakat.

Sejumlah negara telah mencoba meredam situasi dengan melepas cadangan minyak strategis dalam jumlah besar. Namun, langkah tersebut dinilai belum mampu menutup kekurangan pasokan jika konflik berlangsung dalam jangka panjang.

Sebagai respons, berbagai pemerintah mulai menerapkan kebijakan penghematan energi. Langkah-langkah yang diambil antara lain mengurangi penggunaan listrik dan bahan bakar, mendorong penggunaan transportasi umum, serta membatasi aktivitas industri yang boros energi.

Beberapa negara bahkan menerapkan kebijakan khusus. Thailand, misalnya, meminta aparatur sipil negara untuk mengurangi konsumsi energi, termasuk membatasi perjalanan dinas dan menggunakan tangga dibanding lift.

Bangladesh menutup kampus, sementara Sri Lanka menerapkan pembatasan bahan bakar. China menghentikan ekspor bahan bakar olahan, dan Inggris menyiapkan kebijakan darurat seperti penurunan batas kecepatan kendaraan untuk menghemat energi.

Selain sektor energi, dampak konflik ini juga merembet ke bidang lain. Distribusi pupuk yang terganggu menyebabkan harga naik hingga 30–40%, sehingga beberapa negara terpaksa menghentikan produksi. Jika kondisi ini berlanjut, hasil pertanian global bisa menurun dan memperburuk ketahanan pangan.

Tak hanya itu, rantai pasok berbagai komoditas penting seperti helium, obat-obatan, dan logistik juga ikut terdampak. Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya produksi dan harga barang bagi konsumen di seluruh dunia.