Gelombang Demonstrasi Meluas di Eropa, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 19 Oct 2026, 14:25 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Gelombang demonstrasi terkait biaya hidup meluas dari Prancis ke sejumlah negara Eropa, termasuk Spanyol, Italia, Belgia, Portugal, dan Albania. Prancis menjadi pusat gerakan yang dipicu oleh berbagai persoalan, mulai dari biaya pendidikan hingga kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.

Di Prancis, aksi protes awalnya melibatkan siswa sekolah menengah yang bentrok dengan polisi. Mereka mempersoalkan jam sekolah yang terlalu panjang, kekurangan tenaga pengajar, ruang kelas yang rusak, serta sistem penerimaan universitas yang dinilai tidak transparan.

Aksi kemudian diikuti kelompok masyarakat lain yang menyuarakan keresahan terhadap kenaikan biaya hidup. Lonjakan harga bahan bakar yang dikaitkan dengan pengeboman oleh Amerika Serikat dan penutupan praktis Selat Hormuz turut memperbesar tekanan tersebut.

Konfederasi Umum Buruh (CGT), salah satu serikat pekerja terbesar di Prancis, ikut mendukung demonstrasi. Serikat tersebut menuntut penurunan harga, peningkatan dana pensiun, serta kenaikan upah di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat.

Di Spanyol, demonstrasi berfokus pada mahalnya harga perumahan. Aksi pada September dipicu kasus pengusiran Maricarmen Abascal, perempuan berusia 87 tahun, setelah sebuah dana investasi menaikkan harga sewanya hingga 230%. Ia meninggal dunia dua minggu kemudian setelah sempat menjalani perawatan di rumah sakit.

Para demonstran di Spanyol menuntut penurunan harga sewa, penghentian pengusiran paksa, serta larangan bagi dana investasi untuk membeli properti. Persoalan serupa juga mencuat di Portugal, ketika ratusan orang berkumpul di pusat Lisbon pada Sabtu (17/10/2026).

Data resmi menunjukkan harga perumahan di Portugal melonjak 124% sepanjang 2015 hingga 2024. Kenaikan tersebut sekitar dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata di Uni Eropa, memperkuat tekanan terhadap masyarakat yang menghadapi biaya hunian semakin mahal.

Sementara itu, demonstrasi di Italia diwarnai bentrokan antara sejumlah pengunjuk rasa dan polisi di Milan. Massa melemparkan benda ke arah polisi antihuru-hara dan membakar barikade, sementara aparat menggunakan meriam air serta gas air mata untuk membubarkan kerumunan.

Di Albania, aksi protes yang menuntut Perdana Menteri Edi Rama telah memasuki hari keenam pada Minggu (18/10/2026). Berbagai aksi di negara-negara tersebut menunjukkan bahwa keresahan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan satu persoalan, tetapi juga menyangkut tekanan ekonomi dan tuntutan terhadap pemerintah.

Profesor hukum dan kebijakan Uni Eropa di HEC Paris Business School, Alberto Alemanno, menilai skala demonstrasi di negara lain belum menyamai aksi di Prancis. Namun, ia melihat tanda-tanda gerakan tersebut mulai menyebar dan berpotensi memunculkan titik gejolak baru, termasuk di Yunani, Jerman, dan Austria dalam beberapa pekan mendatang.