Menlu Iran Peringatkan AS, Netanyahu Dituding Ingin Picu Perang Baru

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 19 Oct 2026, 11:56 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuduh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berupaya mendorong Amerika Serikat (AS) kembali berperang melawan Teheran demi menghindari hukuman penjara. Araghchi juga memperingatkan Washington agar tidak mengambil langkah militer baru terhadap Iran.

"Netanyahu mendorong Amerika ke dalam perang lainnya agar dia tidak masuk penjara," tulis Araghchi melalui media sosial X, Senin (19/10/2026).

Araghchi menilai Netanyahu mengabaikan konsekuensi yang dapat ditimbulkan bagi Israel maupun Presiden AS Donald Trump. Ia juga memperingatkan bahwa Iran dapat kembali menghadapi konflik dengan kekuatan yang lebih besar.

"Terakhir kali Anda ingin 'menyelesaikan tugas', Iran justru muncul dengan kekuatan yang lebih besar lagi. Ingin mencoba keberuntungan Anda sekali lagi? Silakan saja. Namun berhati-hatilah, kami pun memiliki urusan yang belum selesai," tegas Araghchi.

Pernyataan tersebut muncul setelah Trump menyatakan dukungan kepada Netanyahu menjelang pemilu Israel yang dijadwalkan pada 27 Oktober 2026. Trump memuji kemitraan AS dan Israel dalam menghadapi Iran sekaligus menyampaikan peringatan terkait kemungkinan pergantian kepemimpinan di Israel.

"Jika Israel memiliki pemimpin yang salah, siapa pun selain Bibi, maka Amerika harus melakukan pekerjaan ini sendiri, dan saya berniat untuk melakukannya," kata Trump melalui platform Truth Social. Bibi merupakan nama panggilan yang digunakan untuk menyebut Netanyahu.

Netanyahu telah memimpin pemerintahan Israel sejak akhir 2022. Pemerintahannya disebut sebagai salah satu pemerintahan paling berhaluan sayap kanan dalam sejarah Israel.

Di dalam negeri, Netanyahu tengah menjalani persidangan atas tuduhan korupsi yang dapat berujung pada hukuman penjara jika ia dinyatakan bersalah. Ia juga menjadi buruan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) sejak 2024 atas tuduhan kejahatan perang di Jalur Gaza.

Sementara itu, partai-partai oposisi Israel meningkatkan koordinasi untuk mengganti pemerintahan Netanyahu melalui pemilu. Situasi ini menambah tekanan politik menjelang pemungutan suara pada 27 Oktober mendatang.

Tuduhan Araghchi memperlihatkan meningkatnya ketegangan dalam hubungan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Namun, pernyataan mengenai motif Netanyahu untuk menghindari penjara merupakan tuduhan dari pihak Iran, bukan fakta yang telah terbukti.