Hanya Tidur 471 Menit Setiap Malam, Tapi Gaya Hidup Orang Jepang Sangat Sehat, Ini Alasannya

Oleh Chodijah Febriani pada 09 Oct 2026, 15:37 WIB

Masyakarat Jepang - pexels/Bor Jinson

JAKARTA, Cobisnis.com - Kebiasaan tidur yang sehat bergantung pada durasi, kualitas, dan keteraturan tidur. Sebagian besar orang dewasa membutuhkan sekitar tujuh hingga sembilan jam tidur, meskipun jumlahnya bervariasi dari orang ke orang.

Tetapi, ada beberapa orang mungkin merasa cukup dengan tidur yang lebih sedikit, sementara yang lain membutuhkan lebih banyak waktu tidur untuk merasa segar dan tetap sehat.

Menurut data dari Perpustakaan Kedokteran Nasional juga menunjukkan bahwa durasi tidur yang dilaporkan bervariasi di berbagai negara, dengan orang Asia misalnya, Jepang, Indonesia, Malaysia, Filipina yang tidur, rata-rata, lebih sedikit daripada orang di negara lain.

Selain itu, menurut laporan dari calendar-uk.co.uk, sebuah survei yang dilakukan pada tahun 2021 menunjukkan bahwa orang-orang di Jepang rata-rata tidur selama 471 menit per malam, setara dengan sekitar tujuh jam dan 51 menit. Waktu tidur rata-rata pada hari kerja sedikit lebih rendah.

Namun, walaupun tidur lebih sedikit, orang Jepang menjalani hidup yang lebih sehat.

Menurut Dr. Seema Dhir, Kepala Unit & Konsultan Senior Penyakit Dalam, Rumah Sakit Artemis, Gurugram, mengatakan, rata-rata penduduk Jepang tidur sekitar 6,5 jam, yang lebih sedikit daripada India dan sebagian besar negara, namun penduduknya hidup lebih lama dan lebih sehat.

Dr. Dhir pun memberikan beberapa alasannya yang dikutip dari Indiaexpress, Jumat (9/10/2026), yaitu:

1. Pola makan yang berpusat pada ikan dan makanan fermentasi:

Masakan Jepang terkenal dengan ikan yang kaya akan omega-3, serta produk kedelai seperti natto dan miso, rumput laut, dan teh hijau, yang dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit jantung dan peradangan. Omega-3 dan triptofan dalam ikan dan kedelai meningkatkan melatonin, yang membantu meningkatkan kualitas tidur.

2. Aktivitas harian yang aktif

Sebagian besar warga Jepang berjalan kaki ke stasiun kereta dan menggunakan transportasi umum setiap hari, sehingga menempuh ribuan langkah tanpa berolahraga secara formal.

3. Tidur siang di tempat umum

Di Jepang, tidur siang singkat di kereta atau bahkan di tempat kerja untuk mengganti waktu tidur yang hilang dianggap hal yang wajar secara sosial.

4. Mandi ofuro setiap malam

Berendam dalam air hangat sebelum tidur merilekskan tubuh dan memperdalam tidur, sehingga beberapa jam tidur terasa lebih menyegarkan

Jadi, menurut Dr. Dhir bukan lamanya waktu tidur yang menentukan kesehatan seseorang.

"Seseorang yang jam tidurnya lebih sedikit tetapi merasa segar di pagi hari, menjaga jadwal dengan konsisten, dan sangat aktif di siang hari mungkin memiliki kesehatan tidur yang lebih baik daripada seseorang yang menghabiskan lebih banyak waktu di tempat tidur tetapi tidurnya terfragmentasi dan berkualitas buruk," ujarnya.

Dia menekankan pentingnya gaya hidup, serta tidur, dan bagaimana kesehatan secara keseluruhan dapat dipengaruhi oleh pola makan, aktivitas fisik, stres, konsumsi alkohol, kondisi medis, dan rutinitas harian.

"Menghabiskan lima atau sembilan jam di tempat tidur, rasa kantuk terus-menerus di siang hari, kesulitan berkonsentrasi, mendengkur keras, sering terbangun, dan kebutuhan akan stimulan agar tetap waspada, semuanya bisa menjadi tanda bahwa kualitas tidur kamu perlu diperhatikan," tambah Dr. Dhir.

Kualitas tidur sangat penting karena seseorang mungkin berbaring di tempat tidur selama delapan jam tetapi sering terbangun, tidur tidak nyenyak, dan memiliki masalah yang tidak diobati seperti apnea tidur.

Dalam kasus seperti itu, tubuh mungkin tidak mendapatkan cukup tidur yang sehat. Tidur yang berkualitas penting untuk daya ingat, kekebalan tubuh, metabolisme, suasana hati, tekanan darah, dan kesehatan jantung.