JAKARTA, Cobisnis.com - Obesitas pada anak bukan sekadar persoalan berat badan. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, mulai dari diabetes tipe 2 hingga gangguan tidur dan pernapasan.
Mengutip Mayo Clinic, obesitas pada anak dipengaruhi banyak faktor. Selain pola makan dan aktivitas fisik, tidur, stres, genetik, hormon, riwayat keluarga, serta lingkungan juga dapat berperan.
Salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah diabetes tipe 2, kondisi ketika tubuh mengalami gangguan dalam menggunakan gula darah. Risiko ini dapat meningkat ketika kelebihan berat badan disertai kebiasaan kurang bergerak.
Obesitas juga dapat berkaitan dengan tekanan darah tinggi dan peningkatan kadar kolesterol. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi mendorong penumpukan plak di pembuluh darah.
Kelebihan berat badan turut memberikan tekanan tambahan pada sendi, terutama pinggul dan lutut. Anak juga dapat mengalami nyeri atau cedera pada pinggul, lutut, hingga punggung yang berpotensi membuat mereka semakin enggan beraktivitas.
Masalah lain yang dapat muncul adalah gangguan tidur dan pernapasan. Anak dengan berat badan berlebih lebih berisiko mengalami apnea tidur obstruktif, yaitu kondisi ketika napas berhenti dan kembali berulang kali selama tidur.
Dari sisi pola makan, konsumsi berlebihan makanan tinggi gula tambahan, lemak jenuh, dan natrium dapat meningkatkan risiko obesitas. Contohnya termasuk makanan cepat saji, makanan ringan, permen, kue, serta minuman manis.
Kurangnya aktivitas fisik juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Anak yang terlalu banyak menghabiskan waktu menonton televisi, bermain gim, atau menggunakan media sosial cenderung memiliki lebih sedikit waktu untuk bergerak.
Stres dan kurang tidur turut berperan dalam risiko kenaikan berat badan. Stres dapat memengaruhi hormon seperti kortisol, yang berkaitan dengan meningkatnya rasa lapar dan keinginan mengonsumsi makanan tinggi lemak serta gula.
Meski demikian, tidak semua faktor obesitas dapat dikendalikan oleh orang tua. Riwayat keluarga, perubahan gen tertentu, kondisi hormonal, serta akses terhadap makanan sehat dan ruang bermain yang aman juga dapat memengaruhi risiko anak.
Keluarga tetap dapat membangun kebiasaan yang mendukung kesehatan anak melalui pola makan seimbang, aktivitas fisik bersama, waktu tidur yang cukup, dan pembatasan waktu layar untuk hiburan. Perubahan tersebut sebaiknya dilakukan tanpa membuat anak merasa dihukum atau dipermalukan karena berat badannya.
Obesitas memang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, tetapi kondisi anak tidak bisa dinilai hanya dari angka timbangan. Faktor biologis, kebiasaan sehari-hari, kondisi emosional, dan lingkungan perlu dipertimbangkan secara menyeluruh.