JAKARTA, Cobisnis.com – Harga emas Antam turun tajam hingga Rp 65.000 per gram, dipicu penguatan dolar AS dan sentimen meredanya konflik global. Pergerakan ini langsung menekan minat investor pada aset safe haven.
Penurunan terjadi setelah pidato Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut kemungkinan perang akan segera berakhir dalam beberapa minggu ke depan. Pernyataan ini mengubah arah pasar secara cepat.
Sentimen tersebut mendorong penguatan dolar AS di pasar global. Ketika dolar menguat, harga emas biasanya tertekan karena menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Selain itu, harga minyak mentah justru mengalami kenaikan signifikan. Kondisi ini memperkuat tekanan terhadap emas yang sebelumnya diuntungkan oleh ketidakpastian geopolitik.
Kenaikan harga minyak hingga menembus US$ 100 per barel juga meningkatkan ekspektasi inflasi global. Hal ini mendorong kenaikan imbal hasil obligasi, terutama obligasi pemerintah AS.
Naiknya imbal hasil obligasi membuat investor mulai mengalihkan asetnya dari emas ke instrumen tersebut. Obligasi dianggap tetap aman namun memberikan imbal hasil lebih menarik.
Di pasar domestik, harga emas Antam 24 karat turun menjadi Rp 2.857.000 per gram. Penurunan ini cukup signifikan dibandingkan posisi sebelumnya di atas Rp 2,9 juta per gram.
Untuk ukuran kecil, harga emas 0,5 gram berada di Rp 1.478.500. Sementara ukuran 10 gram dijual Rp 28.065.000 dan 1 kilogram mencapai Rp 2.797.600.000.
Dalam sepekan terakhir, harga emas bergerak di rentang Rp 2.810.000 hingga Rp 2.922.000 per gram. Sedangkan dalam sebulan, tren cenderung melemah dari level Rp 3.122.000.
Meski turun, peluang kenaikan tetap terbuka. Ketegangan geopolitik yang kembali meningkat berpotensi mendorong harga emas naik kembali, meski diperkirakan tidak signifikan.
Pasar saat ini masih sangat sensitif terhadap isu global, terutama konflik di Timur Tengah. Perubahan sentimen dapat dengan cepat menggerakkan harga emas dalam waktu singkat.