Heboh Stok BBM RI Cuma 21 Hari, DPR: Itu Bukan Cadangan Nasional

Oleh Hidayat Taufik pada 05 Mar 2026, 15:53 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengenai stok bahan bakar minyak (BBM) Indonesia yang disebut hanya cukup untuk 21 hari memicu perhatian publik. Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Komisi XII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Sugeng Suparwoto, menjelaskan bahwa angka 21 hari yang dimaksud bukanlah cadangan nasional, melainkan stok operasional milik Pertamina.

Menurut Sugeng, stok operasional tersebut mencakup minyak mentah (crude oil) maupun produk BBM hasil kilang yang disimpan di berbagai fasilitas penyimpanan, seperti tangki penampungan, kapal tanker, hingga fasilitas floating storage milik Pertamina.

Ia menegaskan bahwa stok tersebut berfungsi untuk menjaga kelancaran distribusi BBM harian di dalam negeri, bukan sebagai cadangan darurat yang disiapkan untuk menghadapi krisis energi jangka panjang.

Indonesia Belum Miliki Cadangan Strategis BBM

Sugeng juga menyampaikan bahwa Indonesia hingga kini belum memiliki Cadangan Strategis Nasional BBM seperti yang dimiliki sejumlah negara maju. Cadangan tersebut biasanya dikelola langsung oleh negara untuk menjaga ketahanan energi saat terjadi gangguan pasokan global.

Konsep cadangan strategis atau Strategic Petroleum Reserve banyak diterapkan oleh negara seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan.

Sebagai contoh, Amerika Serikat memiliki cadangan sekitar 700 juta barel minyak yang disimpan di fasilitas bawah tanah dan dikelola oleh United States Department of Energy. Cadangan tersebut dapat dilepas ke pasar saat terjadi krisis pasokan, lonjakan harga, atau situasi darurat seperti bencana dan konflik.

Sugeng menilai kebutuhan akan cadangan strategis semakin penting, terutama di tengah konflik geopolitik yang mendorong kenaikan harga minyak dunia dalam beberapa hari terakhir.

Harga Minyak Dunia Ikut Terdampak

Dalam beberapa hari terakhir, harga minyak mentah global tercatat melonjak lebih dari 12 persen. Harga minyak jenis Brent Crude Oil kini berada di kisaran 79 hingga 83 dolar AS per barel, naik dari sebelumnya sekitar 69 hingga 71 dolar AS per barel.

Sementara itu, dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, pemerintah menetapkan asumsi Indonesia Crude Price sebesar 70 dolar AS per barel dengan target produksi minyak (lifting) sekitar 610 ribu barel per hari.

Di sisi lain, konsumsi BBM nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari.

Dengan kondisi tersebut, Indonesia masih bergantung pada impor sekitar 1 juta barel BBM per hari untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Pertamina Pantau Situasi Selat Hormuz

Sementara itu, Pertamina Patra Niaga menyatakan terus memantau perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah, termasuk potensi gangguan distribusi energi akibat kemungkinan penutupan Selat Hormuz.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun memastikan bahwa hingga saat ini pasokan BBM di Indonesia masih dalam kondisi aman.

Ia menambahkan bahwa perusahaan juga terus memprioritaskan keselamatan pekerja serta keamanan aset energi yang berada di wilayah yang berpotensi terdampak konflik.

Pertamina juga menyatakan akan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan distribusi energi nasional tetap berjalan lancar di tengah situasi geopolitik global yang tidak menentu.