JAKARTA, Cobisnis.com - Iran memperingatkan Amerika Serikat (AS) bahwa infrastruktur teknologi milik atau terkait Washington di kawasan Teluk dapat menjadi sasaran serangan jika konflik kedua negara kembali berlanjut.
Peringatan tersebut disampaikan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, dalam wawancara dengan Press TV yang ditayangkan akhir pekan lalu.
Rezaei secara khusus menyebut kabel komunikasi, pusat data, dan fasilitas kecerdasan buatan (AI) di Uni Emirat Arab (UEA) serta kawasan sekitar Selat Hormuz.
“Kami belum memasukkan aset-aset ini ke dalam target kami. Tetapi jika perang pecah, banyak dari kabel, pusat data, fasilitas kecerdasan buatan, dan berbagai situs lainnya akan hancur,” kata Rezaei, dikutip dari berbagai sumber, Selasa (13/10/2026).
Ia memperkirakan nilai aset teknologi AS di kawasan tersebut melampaui 2 triliun dolar AS dan menyebutnya sebagai bagian penting dari aktivitas ekonomi Washington di wilayah itu.
Rezaei juga mengatakan Iran sebelumnya menahan sejumlah kemampuan militernya, tetapi siap menggunakan pendekatan yang lebih luas jika permusuhan kembali meningkat.
Ketegangan ini berlangsung di tengah upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik yang dimulai setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Meski intensitas pertempuran disebut telah mereda, blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran masih berlanjut dan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz tetap terganggu.
Iran menyampaikan tujuh syarat untuk menyelesaikan konflik, termasuk pencabutan blokade laut, penghentian permusuhan di seluruh lini, dan pembebasan aset Iran yang dibekukan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, pada Senin (12/10/2026) mengatakan pertukaran pesan melalui mediator masih berlangsung dan Teheran sedang meninjau poin-poin terbaru dari Washington.
Namun, Rezaei menilai tanggapan AS belum memadai karena sejumlah hal dalam proposal Iran belum mendapat kejelasan.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menolak proposal Teheran dan tetap membuka kemungkinan serangan kembali, sementara Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyampaikan klaim bahwa Iran telah kehilangan kendali penuh atas Selat Hormuz.
Rezaei membantah klaim tersebut dan menegaskan Iran akan mempertahankan kendalinya atas jalur pelayaran strategis itu.
Ketidakpastian diplomatik dan ancaman terhadap infrastruktur digital menambah risiko keamanan di kawasan Teluk, yang juga menjadi jalur penting bagi perdagangan energi dunia.