MBG Diklaim Tekan Angka Siswa Lapar, dari 50% Kini Tinggal 14%

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 13 Oct 2026, 15:24 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Badan Gizi Nasional (BGN) mengklaim program Makan Bergizi Gratis (MBG) menurunkan persentase siswa yang datang ke sekolah dalam kondisi lapar dari lebih dari 50% menjadi sekitar 14%. Penurunan tersebut disebut sebagai salah satu dampak positif pelaksanaan program pemenuhan gizi bagi anak sekolah.

Kepala BGN Sudaryono menyampaikan klaim tersebut setelah meninjau pelaksanaan MBG di SD Cot Meuraja, Aceh Besar, pada Selasa (13/10/2026). Menurutnya, perubahan angka siswa yang datang ke sekolah dalam keadaan lapar menjadi salah satu indikator dampak program.

"Sebelumnya sekitar 50 persen lebih siswa datang ke sekolah dalam keadaan lapar. Sekarang, angkanya turun menjadi sekitar 14 persen," kata Sudaryono.

Meski demikian, Sudaryono menduga siswa yang masih datang ke sekolah dalam kondisi lapar kemungkinan berasal dari wilayah yang belum terjangkau layanan dapur MBG. Ia menegaskan dugaan tersebut masih perlu dibuktikan melalui data yang lebih terperinci.

Sudaryono juga mengingatkan bahwa evaluasi MBG tidak cukup hanya melihat kondisi siswa di ibu kota atau kota besar. Menurutnya, penilaian harus menggunakan data agregat yang menggambarkan kondisi siswa di seluruh Indonesia.

"Data yang harus dilihat adalah kondisi secara agregat di seluruh Indonesia," ujarnya.

Pemerataan layanan menjadi salah satu perhatian pemerintah dalam pelaksanaan MBG. Sudaryono menyebut wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta daerah dengan prevalensi stunting tinggi, perlu mendapat perhatian khusus.

Wilayah dengan angka stunting tinggi dinilai perlu menjadi prioritas karena persoalan pemenuhan gizi masih menjadi tantangan. Pemerataan jangkauan layanan dapur MBG menjadi salah satu aspek yang disorot dalam upaya menjangkau siswa di berbagai daerah.

Selain mengklaim penurunan angka siswa yang datang ke sekolah dalam kondisi lapar, Sudaryono menyebut konsumsi protein anak juga meningkat melalui program MBG. Ia menyampaikan bahwa konsumsi protein yang sebelumnya berada pada kisaran 30% hingga 40% kini meningkat hingga mendekati 80%.

"Konsumsi protein anak-anak juga meningkat melalui program MBG. Jika tidak salah, sebelumnya berada pada kisaran 30-40 persen, kemudian meningkat hingga hampir 80 persen," katanya.

Klaim tersebut menempatkan pemenuhan gizi sebagai salah satu aspek yang dinilai dalam pelaksanaan MBG. Namun, berdasarkan keterangan yang tersedia, angka penurunan siswa lapar dan peningkatan konsumsi protein tersebut masih merupakan data yang disampaikan BGN, sementara rincian metode pengukuran dan data pendukungnya tidak dijelaskan lebih lanjut.

Pemerintah melalui BGN menekankan pentingnya melihat dampak MBG secara nasional, termasuk memastikan layanan menjangkau daerah 3T dan wilayah dengan prevalensi stunting tinggi. Pemerataan akses dan ketersediaan data yang menyeluruh menjadi bagian penting dalam menilai pelaksanaan program tersebut.