Iran Tutup Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Sulit Dijangkau

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 03 Mar 2026, 13:25 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Ancaman Iran untuk menutup Selat Hormuz kembali memicu alarm global. Jalur sempit ini bukan sekadar laut biasa, melainkan salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.

Ketegangan meningkat di tengah konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Pernyataan keras dari Teheran membuat pelaku pasar langsung bereaksi, terutama di sektor energi dan pelayaran.

Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Diapit Iran di utara serta Oman dan Uni Emirat Arab di selatan, jalur ini menjadi lintasan utama ekspor minyak dari kawasan Teluk.

Lebarnya sekitar 50 kilometer di pintu masuk dan keluar, lalu menyempit menjadi sekitar 33 kilometer di titik tersempit. Di wilayah ini, jalur pelayaran internasional bersinggungan langsung dengan perairan teritorial Iran dan Oman.

Data Badan Informasi Energi AS (EIA) mencatat sekitar 20 juta barel minyak per hari melintas di Selat Hormuz sepanjang 2025. Angka itu setara hampir 20 persen pasokan minyak global.

Artinya, satu dari lima barel minyak dunia bergantung pada stabilitas selat ini. Gangguan kecil saja bisa memicu lonjakan harga dan ketidakpastian di pasar global.

Harga minyak Brent bahkan sempat menyentuh 82 dolar AS per barel setelah muncul laporan serangan kapal di sekitar kawasan tersebut. Kenaikan ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap risiko geopolitik.

Biaya sewa kapal tanker super juga melonjak hingga lebih dari 400 ribu dolar AS per perjalanan dari Timur Tengah ke China. Lonjakan biaya logistik ini berpotensi diteruskan ke harga bahan bakar dan barang konsumsi.

Sejumlah negara Teluk memang memiliki jalur pipa alternatif. Arab Saudi mampu mengalihkan hingga 5 juta barel per hari, sementara Uni Emirat Arab memiliki pipa ke pelabuhan Fujairah.

Namun kapasitas tersebut belum cukup menutup seluruh volume yang biasa melewati Selat Hormuz. Jika penutupan total terjadi, pasokan global diperkirakan bisa berkurang 8–10 juta barel per hari.

Penurunan pasokan sebesar itu berisiko mendorong inflasi global. Negara-negara importir besar seperti China, India, dan Jepang akan merasakan dampak langsung melalui kenaikan harga energi dan biaya produksi.

Secara hukum internasional, Iran memiliki hak atas perairan teritorial hingga 12 mil laut dari garis pantai. Namun setiap upaya blokade berpotensi memicu respons militer, termasuk dari Amerika Serikat yang pernah mengawal tanker pada era “perang tanker” 1980-an.

Situasi ini menempatkan Selat Hormuz sebagai titik krusial dalam stabilitas ekonomi internasional. Dunia kini menunggu langkah berikutnya, sambil menghitung risiko jika jalur vital ini benar-benar terganggu.