Karhutla Kalimantan Makin Meluas, 52% Populasi Orang Utan Terancam

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 27 Sep 2026, 07:48 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Kalimantan semakin mengancam keberlangsungan populasi orang utan. International Union for Conservation of Nature atau IUCN menyebut habitat yang terbakar mencakup area tempat hidup 52% populasi orang utan di Kalimantan.

Dari jumlah tersebut, terdapat 13 dari 20 populasi orang utan terbesar yang tersisa ikut terdampak. IUCN menyebut paparan api dan asap memberikan dampak terhadap kondisi fisik, perilaku, hingga ekosistem orang utan di habitat hutan gambut.

Paparan asap pekat juga berdampak pada kondisi tubuh orang utan. Satwa ini dilaporkan mengalami penurunan kadar lemak tubuh meski makan dan beristirahat lebih banyak.

Kondisi tersebut mengindikasikan adanya peningkatan kebutuhan energi. Salah satu dugaan penyebabnya adalah sistem kekebalan tubuh yang harus bekerja lebih keras akibat paparan asap.

Ancaman serupa juga dihadapi lima spesies owa yang habitatnya berada di Sumatra dan Kalimantan. Paparan udara tercemar dapat mengganggu pernapasan, sekaligus membuat tempat tinggal dan perilaku alami satwa tersebut terganggu.

Kementerian Kehutanan sebelumnya melaporkan telah menyelamatkan 100 satwa yang terancam kebakaran. Dari jumlah tersebut, 53 di antaranya merupakan orang utan.

Forum Konservasi Orangutan Indonesia atau FORINA mendesak agar penanganan karhutla tidak berhenti pada kondisi darurat. Ronna Saab dari FORINA mengatakan respons darurat perlu diikuti investasi berkelanjutan untuk mencegah kebakaran kembali terjadi.

Langkah yang didorong mencakup perlindungan dan pembasahan kembali lahan gambut, penanganan saluran drainase dan pembalakan hutan. Kawasan hutan yang terbakar juga dinilai perlu dilindungi dari alih fungsi lahan dan dipulihkan.

Data pemerintah menunjukkan lebih dari 202.000 hektare lahan terbakar di Indonesia sepanjang Januari hingga Juli. Sementara itu, proyek Nusantara Atlas memperkirakan luas lahan terbakar mencapai hampir 900.000 hektare pada Januari hingga Agustus.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM Raden Wisnu Nurcahyo menyebut karhutla sebagai ancaman serius bagi orang utan karena merusak vegetasi yang menjadi sumber makanan sekaligus tempat berlindung dan bersarang.

“Karena kebakaran itu kan mengacaukan pohon, tanaman, sementara tanaman itu sumber pakan, dan pohon-pohon itu tempat bersarangnya mereka,” kata Wisnu.

Kebakaran juga dapat mengganggu ruang jelajah orang utan. Api dan asap bisa membuat satwa turun ke tanah dan mendekati permukiman atau perkebunan untuk mencari makanan.

Situasi tersebut meningkatkan risiko kelaparan, dehidrasi, luka bakar, hingga konflik dengan manusia. Paparan asap juga dapat mengganggu sistem pernapasan karena mengandung karbon monoksida dan berbagai senyawa beracun.

Wisnu memperkirakan jumlah satwa yang terdampak kemungkinan lebih besar dari yang sudah tercatat. Satwa yang ditemukan umumnya berada di sekitar jalan, perkebunan, atau permukiman, sedangkan kondisi satwa di bagian dalam hutan dan kawasan gambut lebih sulit diketahui.