JAKARTA, Cobisnis.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah serangkaian pernyataannya terkait perang Iran dinilai berubah-ubah dalam waktu singkat.
Perubahan sikap ini terjadi sejak penutupan Selat Hormuz oleh Iran, menyusul konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari 2026.
Pada 14 Maret, Trump sempat meminta bantuan negara-negara NATO untuk ikut membuka jalur strategis tersebut. Ia menilai banyak negara terdampak dan perlu turun tangan.
Namun dua hari kemudian, pada 16 Maret, Trump mengubah pernyataannya. Ia menyebut Amerika Serikat tidak membutuhkan bantuan dari negara lain.
Pernyataan tersebut kemudian berlanjut pada 20 Maret, saat Trump menyindir NATO. Ia bahkan menyebut aliansi tersebut tidak kuat tanpa keterlibatan Amerika Serikat.
Di hari yang sama, Trump kembali melontarkan kritik keras. Ia menilai negara-negara sekutu enggan membantu meski terdampak langsung oleh kenaikan harga energi.
Pada 26 Maret, sikap Trump kembali berubah. Ia menyatakan Amerika Serikat tidak akan lagi membantu sekutu yang dinilai tidak mendukung dalam konflik tersebut.
Memasuki 31 Maret, Trump justru mendorong negara lain untuk mengambil alih pembukaan Selat Hormuz. Ia menyarankan negara terdampak bertindak sendiri.
Di hari yang sama, Trump juga menyatakan bahwa perang dengan Iran akan segera berakhir dalam waktu sekitar dua minggu. Pernyataan ini memberi sinyal optimisme.
Namun, pada 1 April, Trump kembali mengubah nada pernyataannya. Ia mengancam akan melancarkan serangan besar yang bisa melumpuhkan Iran.
Rangkaian pernyataan ini menunjukkan dinamika yang cepat dalam kebijakan komunikasi pemerintah AS. Perubahan ini memicu berbagai spekulasi di tingkat global.
Ketidakpastian arah kebijakan ini dinilai bisa berdampak pada stabilitas geopolitik. Pasar energi dan hubungan antarnegara juga ikut terpengaruh.
Situasi ini membuat banyak pihak memilih menunggu langkah konkret berikutnya. Konsistensi kebijakan menjadi faktor penting dalam meredam ketegangan.