JAKARTA, Cobisnis.com – Heidi O’Neill resmi memulai tugasnya sebagai CEO baru Lululemon pada Selasa. Namun, ia langsung menghadapi sejumlah tantangan besar di tengah melemahnya kinerja perusahaan.
Pekan lalu, merek pakaian olahraga premium itu melaporkan hasil keuangan yang mengecewakan. Penjualan Lululemon di Amerika Utara turun 12% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Selain itu, perusahaan kembali memangkas proyeksi kinerja tahunannya. Ini menjadi penurunan panduan bisnis kedua dalam tiga bulan terakhir. Reaksi pasar pun cukup keras. Saham Lululemon merosot sekitar 20% pada perdagangan Jumat dan berada di level terendah dalam delapan tahun.
Lululemon menyebut penurunan penjualan produk utama sebagai salah satu penyebab utama. Produk legging yang selama ini menjadi andalan perusahaan mencatat penurunan penjualan hingga 20%.
Sementara itu, perusahaan juga menghadapi masalah reputasi di pasar China. Sebuah kampanye promosi menggunakan drum Jepang untuk memperingati Tembok Besar China memicu kritik dari konsumen setempat. Kontroversi tersebut memicu gelombang reaksi negatif di media sosial. Karena itu, penjualan Lululemon di pasar China ikut terdampak.
Namun, tantangan yang dihadapi perusahaan tidak berhenti di situ. Dalam beberapa tahun terakhir, Lululemon kehilangan sebagian pelanggan yang beralih ke merek olahraga dan athleisure yang lebih populer di kalangan konsumen muda.
Di sisi lain, perusahaan juga sempat menghadapi ketegangan internal dengan pendirinya, Chip Wilson. Meski konflik tersebut mereda dalam beberapa bulan terakhir, isu itu sempat menarik perhatian publik dan investor.
Selain itu, perlambatan belanja konsumen turut menekan kinerja perusahaan. Banyak pembeli kini lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang untuk produk non-esensial, termasuk pakaian olahraga premium.
Kondisi tersebut membuat Heidi O’Neill harus bergerak cepat. Ia dituntut mengembalikan pertumbuhan penjualan, memperkuat posisi merek, serta menghadapi persaingan yang semakin ketat di industri athleisure global.