Mi Tanpa Topping Laris di Jepang, Strategi Hemat Warga Hadapi Inflasi

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 18 Aug 2026, 11:29 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Inflasi pangan di Jepang mulai mengubah pola belanja masyarakat. Produk mi instan dan mi beku murah tanpa tambahan topping kini semakin diminati karena menawarkan harga lebih rendah dengan porsi yang tetap mengenyangkan.

Jaringan minimarket dan supermarket di Jepang melihat peluang dari perubahan perilaku konsumen tersebut. Produk mi polos menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin menekan pengeluaran di tengah biaya hidup yang terus meningkat.

Lawson menjadi salah satu jaringan yang mengikuti tren tersebut. Sejak akhir Juni 2026, Lawson menjual dua jenis mi beku tanpa topping dengan harga 297 yen atau sekitar Rp33.234 per porsi.

Harga tersebut lebih murah lebih dari 20 persen dibandingkan mi beku yang dilengkapi bahan pelengkap. Konsumen juga dapat menambahkan bahan sesuai selera tanpa harus membayar topping yang sudah disediakan.

Strategi mi polos sebenarnya bukan hal baru bagi Lawson. Pada Oktober 2024, perusahaan tersebut telah meluncurkan mi instan tanpa topping dengan mengandalkan cita rasa kuah kaldu.

Produk tersebut mendapat respons tinggi dari konsumen. Penjualannya bahkan telah menembus lebih dari 5 juta unit, menunjukkan bahwa pilihan makanan sederhana dengan harga rendah memiliki pasar yang kuat.

Pejabat Divisi Produk Lawson Kanako Ochi mengatakan perubahan pola belanja terjadi karena masyarakat merespons tekanan inflasi. Perusahaan berupaya memenuhi kebutuhan konsumen dengan menawarkan produk yang tetap terjangkau.

Tren serupa juga terlihat di jaringan supermarket Aeon. Sejak April 2025, Aeon menjual yakisoba tanpa daging babi dan kol dengan harga mulai dari 320 yen, tetapi porsinya tiga kali lebih banyak dibandingkan produk yakisoba biasa.

Awalnya produk tersebut hanya dijual di sejumlah wilayah, termasuk kawasan metropolitan Tokyo. Namun, penjualannya mencapai 10 kali lipat dari target awal sehingga Aeon memperluas distribusinya ke seluruh Jepang.

Aeon kemudian menambah pilihan mi hemat pada Juli 2026 dengan meluncurkan soba tanpa topping. Produk tersebut menawarkan porsi mi dua kali lebih banyak dibandingkan varian yang sudah tersedia sebelumnya.

Tekanan biaya hidup menjadi latar belakang kuat di balik perubahan konsumsi tersebut. Data Teikoku Databank menunjukkan sekitar 18.000 produk kebutuhan di Jepang telah mengalami kenaikan harga pada 2026 atau dijadwalkan naik hingga November.

Dengan inflasi yang diperkirakan masih berlanjut, produk pangan sederhana dengan harga terjangkau berpotensi terus menjadi pilihan masyarakat Jepang. Mi tanpa topping menawarkan cara bagi konsumen untuk memangkas pengeluaran tanpa harus mengurangi porsi makanan secara signifikan.