JAKARTA, Cobisnis.com - Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, melontarkan pernyataan keras terhadap Amerika Serikat soal kehadiran AS di kawasan Teluk Persia.
Dalam pesan tertulis yang dibacakan di televisi pemerintah Iran pada Kamis (30/4/2026), ia menegaskan pihak asing tidak punya tempat di wilayah tersebut.
Mojtaba menyebut masa depan Teluk Persia adalah masa depan tanpa Amerika Serikat. Visi itu ia kaitkan langsung dengan kemajuan dan kesejahteraan rakyat kawasan.
Pernyataan paling tajam menyasar pihak luar yang datang dari ribuan kilometer jauhnya. Menurutnya, mereka yang datang dengan keserakahan hanya punya satu tempat di sana, yaitu di dasar perairannya.
Iran sekaligus mengumumkan babak baru pengelolaan Selat Hormuz sejak konflik bersenjata dengan AS dan Israel pecah pada 28 Februari 2026. Mojtaba menyebutnya sebagai "manajemen baru" yang akan membawa ketenangan dan manfaat ekonomi bagi seluruh negara Teluk.
Selat Hormuz adalah jalur energi paling vital di dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melintas di sana setiap harinya.
Pernyataan ini muncul di tengah gencatan senjata rapuh yang berlaku sejak 7 April 2026. Negosiasi Teheran dan Washington belum menghasilkan kesepakatan, sementara AS disebut masih menjalankan blokade laut untuk menekan ekspor minyak Iran.
Situasi itu mendorong lonjakan harga minyak dunia dalam beberapa pekan terakhir. Gangguan sekecil apa pun di selat ini bisa langsung berdampak ke harga energi global.
Mojtaba juga menegaskan posisi Iran soal program nuklir dan misil. Ia menyebutnya sebagai aset nasional yang tidak bisa diganggu gugat, setara dengan wilayah darat, laut, dan udara Iran.
Ia bahkan menyebut 90 juta rakyat Iran secara langsung. Kapasitas ilmiah dan teknologi negara itu, dari nanoteknologi hingga kemampuan nuklir, disebutnya sebagai milik rakyat yang akan terus dijaga.
Sikap keras ini mempertegas bahwa Iran tidak bergerak mundur meski gencatan senjata sedang berjalan. Ketegangan di Teluk Persia masih jauh dari selesai.