JAKARTA, Cobisnis.com - Pasar saham Asia memulai perdagangan Senin, 5 Oktober 2026 dengan penguatan. Pergerakan tersebut terjadi ketika investor mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve atau The Fed pada bulan ini.
Perdagangan di kawasan Asia berlangsung relatif tipis karena pasar China, Korea Selatan, dan New South Wales, Australia sedang libur. Investor mengikuti pergerakan Wall Street pada perdagangan Jumat, 2 Oktober 2026.
Data terbaru menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja Amerika Serikat melambat lebih dari perkiraan pada September. Jumlah pekerjaan nonpertanian untuk dua bulan sebelumnya juga mengalami revisi turun cukup tajam.
Kondisi tersebut membuat pasar semakin memperkirakan The Fed tidak akan menaikkan suku bunga pada bulan ini. Menurut alat CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga pada Oktober kini kurang dari 20%, turun dari 64% sepekan sebelumnya.
Ekonom senior Interactive Brokers Jose Torres mengatakan kondisi tenaga kerja AS secara keseluruhan masih stabil. Namun, revisi data pekerjaan menunjukkan ekonomi AS kehilangan pekerjaan dalam dua dari sembilan bulan sepanjang tahun ini.
"Kondisi tenaga kerja secara keseluruhan stabil, tetapi revisi ke bawah pada hari Jumat menandakan bahwa ekonomi AS telah kehilangan pekerjaan dalam dua dari sembilan bulan tahun ini hingga saat ini," kata Torres.
Prospek jeda kenaikan suku bunga The Fed turut mendorong bursa Asia. Indeks Nikkei Jepang naik 2,5%, sementara indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang menguat 0,9%.
Di pasar berjangka, kontrak Nasdaq naik 0,17%, sedangkan kontrak S&P 500 relatif datar. Kontrak EUROSTOXX 50 naik 0,3% dan FTSE menguat 0,4%.
Sementara itu, dolar AS melanjutkan penguatan pada Senin. Kenaikan tersebut didukung imbal hasil obligasi pemerintah AS yang masih tinggi serta pelemahan euro.
Euro merosot ke level terendah dalam 17 bulan dan terakhir diperdagangkan turun 0,6% menjadi US$1,1185. Pelemahan tersebut dipengaruhi kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Prancis.
Kepala Strategi FX Rabobank Jane Foley mengatakan meningkatnya selisih imbal hasil obligasi pemerintah Prancis dan Jerman memicu kekhawatiran mengenai risiko penularan ke pasar aset zona euro. Kondisi tersebut juga meningkatkan risiko arus keluar dana dari euro.
Terhadap yen, dolar AS naik 0,12% menjadi 158,01. Sementara itu, poundsterling melemah 0,25% menjadi US$1,3205.
Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun sedikit turun menjadi 5,2579%. Imbal hasil obligasi AS tenor dua tahun berada di level 4,8059%.
Meski demikian, imbal hasil obligasi di sejumlah ekonomi utama masih berada di dekat level tertinggi dalam beberapa tahun. Tekanan tersebut berkaitan dengan memburuknya kondisi keuangan pemerintah, tingginya penerbitan obligasi, dan kenaikan biaya energi.
Di pasar komoditas, harga minyak turun tipis karena peningkatan ekspor minyak mentah dari Timur Tengah dan pelepasan cadangan minyak negara G7 menambah pasokan. Kondisi tersebut mengimbangi kekhawatiran mengenai potensi kerusakan lebih lanjut terhadap infrastruktur minyak di kawasan Teluk.
Harga minyak mentah Brent turun 0,7% menjadi US$101,52 per barel. Sementara minyak mentah AS turun lebih dari 1% menjadi US$90,11 per barel, sedangkan harga emas spot relatif stabil di US$4.143,82 per ons troi.