JAKARTA, Cobisnis.com - Suspensi menjadi salah satu komponen penting yang menentukan performa motor di MotoGP. Saat ini, perusahaan asal Swedia, Öhlins, menjadi pemasok suspensi bagi mayoritas tim di kelas utama.
Sebanyak 18 dari 22 motor yang berlaga di MotoGP menggunakan suspensi Öhlins. Ducati, Aprilia, Yamaha, dan Honda mempercayakan sistem suspensinya kepada pabrikan tersebut, sementara empat motor KTM RC16 tetap menggunakan WP Suspension.
Dominasi tersebut membuat teknisi Öhlins harus bekerja bersama berbagai tim dan pebalap setiap akhir pekan balapan. Namun, tantangan yang mereka hadapi ternyata bukan hanya soal pengembangan teknologi.
Direktur Balap Öhlins, Jonas Torstensson, mengatakan perbedaan budaya dan gaya komunikasi menjadi tantangan terbesar dalam bekerja di paddock MotoGP. Menurutnya, komunikasi yang efektif sangat menentukan proses penyempurnaan setelan motor.
Torstensson menjelaskan karakter masyarakat Swedia cenderung lebih dekat dengan budaya Jepang dibanding negara Eropa Selatan. Hal itu membuat komunikasi dengan tim Honda dan Yamaha terasa lebih mudah karena memiliki pendekatan yang serupa.
Sebaliknya, mayoritas personel paddock MotoGP berasal dari Italia dan Spanyol yang dikenal memiliki gaya komunikasi lebih terbuka dan langsung. Perbedaan karakter tersebut sering kali memerlukan proses penyesuaian agar kerja sama tetap berjalan efektif.
Menurut Torstensson, memahami karakter setiap individu menjadi kemampuan yang sama pentingnya dengan keahlian teknis. Ia menilai kesadaran terhadap perbedaan budaya menjadi kunci membangun kolaborasi yang lebih baik.
Sejak bergabung dengan Brembo Group pada Januari 2025, Öhlins juga memperluas pendekatan multikultural dalam organisasinya. Perusahaan memanfaatkan pengalaman tersebut untuk meningkatkan koordinasi dengan berbagai mitra di MotoGP.
Tim teknis Öhlins di lintasan kini diisi personel dari berbagai negara, seperti Inggris, Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Spanyol, Italia, hingga Jerman. Keberagaman itu dinilai mempercepat komunikasi dengan setiap tim dan pebalap.
Bagi Öhlins, keberhasilan di MotoGP tidak hanya ditentukan kualitas produk, tetapi juga kemampuan membangun komunikasi lintas budaya. Pendekatan tersebut menjadi faktor penting agar pengembangan motor dapat berjalan lebih cepat dan sesuai kebutuhan setiap tim.