JAKARTA, Cobisnis.com – Penembakan yang menewaskan pegawai PT Freeport Indonesia, Simson Mulia, memicu sorotan serius terhadap sistem keamanan di kawasan tambang Grasberg yang selama ini dikenal super ketat.
Insiden terjadi pada 11 Maret 2026 di area Jayapura Lime Quarry, bagian dari wilayah operasional Freeport di Mimika, Papua Tengah. Simson yang merupakan insinyur senior ditembak orang tak dikenal saat berada di lokasi kerja.
Peristiwa ini menjadi janggal karena area tersebut berstatus objek vital nasional. Kawasan Freeport dijaga ribuan aparat gabungan TNI-Polri serta sistem keamanan berlapis selama 24 jam penuh.
Berdasarkan laporan perusahaan, terdapat sekitar 1.600 personel aparat negara yang ditugaskan menjaga area tersebut. Dari jumlah itu, 758 merupakan anggota Brimob yang tergabung dalam Satgas Amole.
Selain aparat, Freeport juga memiliki ratusan petugas keamanan internal. Tercatat 410 pegawai keamanan perusahaan dan 655 tenaga dari pihak ketiga ikut terlibat dalam pengamanan.
Dari sisi anggaran, biaya keamanan yang dikeluarkan tidak kecil. Sepanjang 2024, Freeport mengalokasikan sekitar US$89 juta atau setara Rp1,5 triliun untuk pengamanan wilayah kerja mereka.
Dari total tersebut, sekitar Rp441,6 miliar dialokasikan sebagai dukungan kepada aparat negara. Dana itu mencakup fasilitas logistik, operasional, hingga tunjangan bagi personel yang bertugas di lapangan.
Meski pengamanan terlihat masif, insiden penembakan tetap terjadi di area yang aksesnya sangat terbatas. Untuk masuk ke lokasi seperti Grasberg, seseorang harus melewati pemeriksaan identitas ketat.
Akses menuju lokasi bahkan hanya bisa dilakukan dengan kendaraan khusus atau kereta gantung, dengan pengawasan berlapis di setiap titik. Hal ini membuat publik mempertanyakan bagaimana pelaku bisa masuk membawa senjata.
Polisi hingga kini masih melakukan penyelidikan mendalam terkait kasus ini. Kapolda Papua Tengah menyebut pihaknya membutuhkan waktu untuk mengungkap secara utuh kronologi dan pelaku penembakan.
Nama kelompok bersenjata sempat disebut sebagai pihak yang diduga terlibat. Namun, klaim tersebut belum sepenuhnya terverifikasi dan masih menunggu hasil investigasi resmi.
Insiden ini juga mengingatkan pada kasus serupa yang pernah terjadi di Freeport. Pada 2020, seorang pekerja asing juga tewas ditembak di area perusahaan, menunjukkan bahwa risiko keamanan masih ada.
Selain itu, sejumlah kasus lain seperti salah tangkap warga sipil hingga korban jiwa dalam operasi keamanan turut menambah kompleksitas situasi di wilayah tersebut. Kondisi ini memperlihatkan tantangan besar dalam pengamanan kawasan tambang.
Dengan latar belakang konflik yang panjang dan kondisi geografis yang sulit, keamanan di Freeport bukan hanya soal jumlah personel. Efektivitas sistem dan koordinasi antar pihak menjadi faktor yang sangat menentukan.