Perang Mereda, Harga BBM Belum Ikut Turun, Apa Penyebabnya?

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 11 Oct 2026, 06:05 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Terbukanya kembali Selat Hormuz belum membuat harga bahan bakar minyak (BBM) dunia turun secara signifikan. Meski jalur penting pengiriman minyak tersebut mulai kembali beroperasi, risiko keamanan dan mahalnya biaya distribusi masih menekan pasar energi global.

Di Amerika Serikat, rata-rata harga bensin nasional mencapai US$4,36 per galon atau setara sekitar Rp20.607 per liter berdasarkan kurs yang dikutip dalam laporan. Data AAA menunjukkan harga tersebut belum pernah setinggi itu pada periode yang sama dalam setahun.

Gangguan pasokan minyak akibat perang Iran juga telah meluas menjadi krisis energi. Dampaknya dirasakan berbagai sektor, mulai dari pengemudi kendaraan hingga sopir truk dan petani.

Risiko keamanan masih tinggi

Selat Hormuz memang telah kembali dibuka, tetapi jalur tersebut belum sepenuhnya aman. UK Maritime Trade Operations melaporkan sejumlah kapal dagang terkena proyektil dalam beberapa hari terakhir, termasuk setidaknya dua kapal tanker minyak mentah.

Situasi ini membuat biaya pengiriman minyak melonjak. Data Clarksons menunjukkan tarif sewa kapal tanker raksasa atau Very Large Crude Carrier (VLCC) dari Teluk Persia ke China mencapai US$1,6 juta atau sekitar Rp28,6 miliar per hari.

Angka tersebut jauh di atas biaya tahun sebelumnya yang hanya US$65 ribu atau sekitar Rp1,16 miliar per hari. Lonjakan tarif ini menambah beban biaya untuk membawa minyak ke negara tujuan.

Asuransi dan biaya pengiriman ikut melonjak

Selain tarif kapal, biaya asuransi juga meningkat tajam akibat risiko pelayaran. Produsen minyak dilaporkan harus membayar US$30 juta hingga US$40 juta, setara sekitar Rp536,7 miliar hingga Rp715,6 miliar, untuk satu perjalanan pulang pergi keluar masuk Selat Hormuz.

Tom Kloza, penasihat energi Gulf Oil, mengatakan biaya untuk mengeluarkan minyak dari Teluk Persia sebelumnya hanya sekitar US$2 per barel. Kini, biaya tersebut mencapai sekitar US$33 per barel.

"Kita berhasil mengeluarkan minyak mentah dalam jumlah yang wajar, tetapi itu menyesatkan karena biaya mengeluarkan minyak itu luar biasa besar," kata Kloza.

Harga minyak fisik lebih mahal

Tekanan biaya distribusi turut tercermin dari perbedaan harga minyak fisik dan kontrak berjangka. Data S&P Global Platts mencatat harga Dated Brent untuk pengiriman segera mencapai US$135,74 per barel pada Kamis (8/10/2026), sedangkan harga Brent futures berada di sekitar US$100 per barel.

Harga minyak fisik mencerminkan biaya pasokan yang dibutuhkan untuk pengiriman dalam waktu dekat. Kondisi ini membuat harga yang dibayar pembeli minyak tidak selalu mengikuti pergerakan harga kontrak berjangka.

Jan Stuart, ahli strategi energi global di Piper Sandler, menegaskan pasar energi Amerika Serikat tetap terhubung dengan harga global. Ketergantungan pada impor bensin membuat harga domestik ikut terpengaruh dinamika pasokan internasional.

Gangguan pasokan dari wilayah lain

Tekanan harga tidak hanya berasal dari Selat Hormuz. Serangan Houthi yang mengganggu pelayaran di Selat Bab al-Mandeb turut menambah risiko distribusi energi global.

Serangan drone Ukraina terhadap kilang minyak Rusia juga mengganggu pasokan diesel. Rusia membatasi ekspor BBM untuk menghadapi kebutuhan domestik, sementara China turut membatasi ekspor demi menjaga ketersediaan pasokan di dalam negeri.

Di Amerika Serikat, sejumlah kilang telah beroperasi maksimal, sedangkan sebagian lainnya mengurangi produksi untuk menjalani perawatan rutin. Pada saat yang sama, stok minyak komersial dan cadangan darurat dunia dilaporkan menyusut tajam.

Kondisi tersebut membuat harga BBM belum mudah turun meskipun aliran minyak melalui Selat Hormuz telah pulih mendekati tingkat sebelum perang. Pemulihan jalur distribusi belum otomatis menghapus biaya keamanan, tekanan pasokan, dan mahalnya harga minyak fisik di pasar global.