Pertamina Dorong B50 untuk Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Oleh Rizki Meirino pada 09 Oct 2026, 19:54 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – PT Pertamina (Persero) terus mendorong diversifikasi sumber energi melalui implementasi biodiesel B50 sebagai langkah memperkuat ketahanan energi nasional. Pemanfaatan bahan bakar nabati berbasis sumber daya domestik ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya dalam negeri.

Senior Vice President Business Development Pertamina Ary Kurniawan mengatakan, diversifikasi energi penting dilakukan karena Indonesia memiliki sumber daya energi yang beragam dan tersebar di berbagai wilayah. Selain minyak dan gas bumi, Indonesia mempunyai sumber daya perkebunan, termasuk kelapa sawit, yang dapat diolah menjadi bahan bakar untuk mendukung kebutuhan energi nasional.

“Untuk menjaga ketahanan energi, kita perlu melakukan diversifikasi. Indonesia bukan hanya memiliki sumber daya minyak dan gas, tetapi juga memiliki sumber daya perkebunan seperti sawit yang dapat diolah menjadi energi,” kata Ary dalam acara Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Rabu (7/10).

Menurut Ary, biodiesel B50 menjadi salah satu contoh pemanfaatan sumber daya domestik untuk memperkuat ketahanan energi. Pengembangan program biodiesel di Indonesia terus meningkat hingga menuju implementasi B50, yang mengacu pada bahan bakar dengan kandungan 50 persen biodiesel berbasis minyak nabati dan 50 persen solar.

Implementasi B50 berpotensi mengurangi kebutuhan impor solar sekitar 18 juta kiloliter dan menekan emisi hingga sekitar 44 juta ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e). Program tersebut juga diproyeksikan memberikan penghematan devisa hingga Rp170 triliun pada 2026, sekaligus mendorong aktivitas ekonomi melalui penyerapan sekitar 2,1 juta tenaga kerja dan peningkatan nilai tambah crude palm oil (CPO) sebesar Rp20,9 triliun.

Selain biodiesel, Pertamina mengembangkan sejumlah alternatif bahan bakar berbasis sumber daya domestik. Salah satunya adalah biogasoline berbasis sawit yang direncanakan menjalani pengujian di dua kilang. Pengembangan ini menjadi bagian dari upaya memperluas pemanfaatan bahan baku lokal untuk mendukung kebutuhan bahan bakar sektor transportasi.

Pertamina juga mengembangkan bioethanol berbahan molase atau tetes tebu. Pemanfaatan bahan baku tersebut diarahkan untuk memperkuat diversifikasi energi dengan mengoptimalkan sumber daya yang tersedia di dalam negeri. Pengembangan biodiesel, biogasoline, dan bioethanol diharapkan dapat memperluas pilihan energi alternatif sekaligus mendukung upaya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor.

“Ini bagian dari bagaimana kita melakukan diversifikasi sumber energi yang kita miliki,” ujar Ary.

Di sektor penerbangan, Pertamina turut mengembangkan pemanfaatan used cooking oil atau minyak jelantah sebagai bahan baku sustainable aviation fuel (SAF) atau bioavtur. Pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan ini menjadi salah satu langkah untuk memanfaatkan limbah minyak nabati sekaligus mendukung upaya menekan emisi di sektor transportasi udara.

Pertamina memandang pengembangan berbagai sumber energi domestik sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem energi yang lebih beragam dan tangguh. Optimalisasi sumber daya lokal dinilai dapat memperkuat ketersediaan energi, membuka peluang ekonomi, serta meningkatkan pemanfaatan bahan baku dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan energi.

Dukungan kebijakan dan regulasi pemerintah, termasuk mandat pemanfaatan bahan bakar nabati, menjadi salah satu faktor penting dalam memperluas pengembangan energi alternatif. Kepastian kebijakan diperlukan agar implementasi program berjalan berkelanjutan dan pengembangan berbagai jenis bahan bakar berbasis sumber daya domestik dapat terus dilakukan.

“Dengan sumber daya yang kita punya, sebenarnya banyak sekali yang bisa dikembangkan menjadi energi. Tantangannya adalah bagaimana kita mengoptimalkan sumber daya tersebut sehingga dapat mendukung ketahanan energi nasional,” ujar Ary.

Melalui implementasi B50 dan pengembangan bahan bakar alternatif lainnya, Pertamina berupaya memperluas diversifikasi energi dengan memanfaatkan potensi sumber daya Indonesia. Langkah tersebut diharapkan dapat mendukung ketahanan pasokan energi, mengurangi kebutuhan impor, dan meningkatkan nilai tambah ekonomi dari sumber daya domestik.