JAKARTA, Cobisnis.com – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 pada 21 April 2026. Dalam rapat tersebut, perseroan melaporkan kinerja positif sekaligus menetapkan sejumlah keputusan strategis.
Salah satu keputusan penting dalam RUPST adalah penunjukan Fransetya Hasudungan Hutabarat sebagai Direktur Keuangan baru. Penunjukan ini diharapkan dapat memperkuat struktur kepemimpinan dan mendorong pertumbuhan bisnis ke depan.
Sepanjang tahun 2025, PGE mencatatkan produksi tertinggi sepanjang sejarah sebesar 5.095,48 GWh. Angka ini meningkat 5,55 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan produksi didorong oleh beroperasinya PLTP Lumut Balai Unit 2 dengan tambahan kapasitas sebesar 55 MW. Dengan demikian, total kapasitas terpasang PGE mencapai 727 MW.
Selain itu, PGE juga terus memperkuat strategi jangka panjang melalui eksplorasi proyek baru. Salah satunya adalah pengembangan PLTP Gunung Tiga di Lampung dengan potensi kapasitas 55 MW.
Perseroan juga menjalin kerja sama strategis dengan PLN IP yang memiliki potensi tambahan kapasitas hingga 530 MW. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperluas portofolio energi bersih.
Di sisi lain, PGE turut mengembangkan inovasi melalui proyek green hydrogen di Ulubelu serta inisiatif green data center berbasis panas bumi. Upaya ini menjadi bagian dari strategi diversifikasi pendapatan di luar sektor kelistrikan.
Dari sisi keuangan, PGE mencatat pendapatan sebesar US$432,73 juta dan laba bersih sebesar US$137,67 juta. EBITDA juga meningkat menjadi US$330,35 juta dengan margin sebesar 76,34 persen.
Direktur Utama PGE Ahmad Yani menyampaikan bahwa capaian ini menjadi fondasi penting untuk mencapai target kapasitas 1 GW pada 2028. Perseroan juga menargetkan kapasitas mencapai 1,8 GW pada 2034.
Melalui penguatan kinerja operasional, strategi ekspansi, dan struktur kepemimpinan baru, PGE optimistis dapat terus mendukung transisi energi bersih serta memperkuat ketahanan energi nasional.