JAKARTA, Cobisnis.com - Burj Khalifa di Dubai, Uni Emirat Arab, dikenal sebagai gedung tertinggi di dunia dengan ketinggian sekitar 828 meter, tetapi kekokohan bangunan ini tidak hanya bergantung pada struktur yang menjulang ke langit.
Salah satu faktor penting yang menopang menara tersebut adalah sistem fondasi yang dirancang khusus untuk menghadapi kondisi tanah Dubai yang didominasi pasir dan batuan sedimen dengan kekuatan terbatas.
Dikutip dari kanal YouTube JAES Company Indonesian, Sabtu (17/10/2026), pembangunan fondasi Burj Khalifa menghadirkan tantangan teknik yang membutuhkan perhitungan cermat, mulai dari penurunan tanah hingga perlindungan terhadap korosi.
Fondasi bangunan ini menggunakan pelat beton bertulang tebal yang dikenal sebagai raft foundation, yang bekerja bersama sistem tiang pancang untuk menyalurkan beban bangunan ke dalam tanah.
Tiang pancang membantu menopang beban melalui kombinasi tahanan di ujung tiang dan gesekan antara permukaan tiang dengan tanah di sekitarnya.
Sistem tersebut menjadi penting karena para insinyur tidak dapat mengandalkan lapisan tanah keras yang dangkal sebagai penopang utama bangunan.
Dalam proses pembangunannya, pengeboran tiang pancang juga menghadapi tantangan berupa air tanah yang dapat membuat dinding lubang bor tidak stabil.
Untuk mengatasinya, cairan pengeboran digunakan guna membantu menjaga kestabilan dinding lubang sebelum tulangan baja dan beton dipasang.
Beton khusus yang dapat mengalir dengan baik tanpa memerlukan pemadatan menggunakan penggetar konvensional juga digunakan dalam pengecoran tiang pancang yang dalam.
Selain menopang beban vertikal, desain fondasi harus memperhitungkan gaya lateral akibat angin yang bekerja pada bangunan sangat tinggi.
Penempatan dan jumlah tiang pancang dirancang melalui analisis teknik serta pengujian beban untuk memastikan fondasi dapat bekerja sesuai perhitungan.
Tantangan lainnya adalah korosi pada tulangan baja akibat kondisi lingkungan dan keberadaan air tanah yang mengandung garam.
Untuk mengurangi risiko tersebut, sistem proteksi katodik menggunakan arus listrik searah diterapkan agar korosi pada tulangan baja dapat dikendalikan.
Dalam sistem ini, tulangan baja berperan sebagai katoda, sedangkan material anoda membantu melindungi baja dari proses korosi elektrokimia.
Arus listrik perlu dijaga dalam rentang yang sesuai karena perlindungan yang tidak memadai dapat meningkatkan risiko korosi, sementara kondisi yang tidak tepat juga dapat menimbulkan efek merugikan pada material.
Oleh sebab itu, sistem perlindungan tersebut memerlukan pemantauan dan pengendalian agar fondasi tetap terlindungi dalam jangka panjang.
Fondasi Burj Khalifa menunjukkan bahwa pembangunan gedung pencakar langit bukan hanya persoalan membuat struktur yang tinggi, tetapi juga memahami karakteristik tanah, menghitung distribusi beban, mengendalikan pergerakan fondasi, serta melindungi material dari kerusakan.
Kombinasi rekayasa geoteknik, teknologi beton, pengujian struktur, dan pengendalian korosi menjadi bagian penting yang memungkinkan bangunan tersebut berdiri di tengah kondisi lingkungan Dubai yang menantang.