JAKARTA, Cobisnis.com – Indonesia masih mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan bensin nasional, dengan porsi yang masih mendominasi hingga 2026.
Pada 2025, impor bensin tercatat mencapai 60,18% dari total kebutuhan nasional. Angka ini menunjukkan ketergantungan yang masih tinggi terhadap pasokan luar negeri.
Memasuki 2026, porsi impor sedikit menurun menjadi sekitar 59%. Meski ada penurunan, kontribusi impor tetap menjadi faktor utama dalam pemenuhan kebutuhan energi domestik.
Kebutuhan bensin nasional pada 2025 berada di angka 100.986 kiloliter per hari. Sementara hingga Februari 2026, kebutuhan tercatat sebesar 99.661 kiloliter per hari.
Pasokan impor bensin sebagian besar berasal dari Singapura dan Malaysia. Kedua negara tersebut menjadi sumber utama karena kedekatan geografis dan kapasitas produksi yang besar.
Di sisi konsumsi, BBM subsidi masih mendominasi dengan angka 76.932 kiloliter per hari pada 2025. Angka ini kemudian turun menjadi 73.107 kiloliter per hari pada 2026.
Sementara itu, konsumsi BBM nonsubsidi justru mengalami peningkatan. Dari 24.055 kiloliter per hari pada 2025, naik menjadi 25.254 kiloliter per hari pada 2026.
Selain bensin, kebutuhan solar nasional juga mengalami kenaikan. Pada 2025 tercatat sebesar 110.932 kiloliter per hari dan meningkat menjadi 111.356 kiloliter per hari pada 2026.
Namun, berbeda dengan bensin, impor solar justru berhasil ditekan. Persentasenya turun dari 12,17% pada 2025 menjadi 6,26% pada 2026.
Kondisi ini menunjukkan adanya perbaikan dalam pengelolaan pasokan solar domestik, meski belum sepenuhnya terjadi pada bensin.
Ketergantungan terhadap impor bensin mencerminkan tantangan struktural dalam sektor energi nasional, terutama terkait kapasitas kilang dan produksi dalam negeri.
Jika tidak ada percepatan penguatan infrastruktur energi, ketergantungan terhadap impor berpotensi terus berlanjut di tengah meningkatnya kebutuhan BBM.