JAKARTA, Cobisnis.com – Serangan Israel di Lebanon selatan menewaskan sedikitnya 11 orang pada Minggu. Serangan tersebut menjadi yang paling mematikan sejak Israel dan Lebanon memperbarui gencatan senjata pada akhir Juni.
Gencatan senjata itu berlangsung dalam situasi yang rapuh. Kedua negara menyepakati kesepakatan tersebut hampir dua bulan lalu. Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menyebut serangan terbaru sebagai bentuk eskalasi. Ia juga menilai situasi tersebut sangat serius.
Salam menyampaikan pernyataan itu melalui unggahan di X. Ia menyerukan perhatian terhadap meningkatnya serangan di wilayah selatan Lebanon.
Sementara itu, Amerika Serikat menjadi mediator dalam kesepakatan gencatan senjata tersebut. Washington juga mendorong pembicaraan lanjutan antara pemerintah Israel dan Lebanon.
Pembicaraan itu bertujuan membuka jalan bagi penarikan pasukan Israel dari Lebanon selatan. Namun, kesepakatan tersebut masih mengizinkan Israel beroperasi di sejumlah wilayah tertentu.
Karena itu, gencatan senjata belum sepenuhnya menghentikan aktivitas militer di Lebanon selatan. Serangan terbaru kembali meningkatkan kekhawatiran mengenai stabilitas kesepakatan tersebut.
Di sisi lain, pemerintah Lebanon terus menghadapi tekanan akibat meningkatnya korban. Sedikitnya 11 orang tewas dalam serangan terbaru. Perkembangan ini menjadi tantangan baru bagi upaya diplomatik yang bertujuan menjaga gencatan senjata. Situasi di Lebanon selatan kini kembali menjadi perhatian utama kawasan.