JAKARTA, Cobisnis.com — Marah, kecewa, sedih, dan cemas merupakan bagian dari emosi yang normal dalam kehidupan sehari-hari. Namun, tidak semua orang terbiasa menyampaikan perasaan tersebut secara terbuka.
Sebagian orang justru memilih memendam emosi dan tetap menjalankan aktivitas seperti biasa. Menahan emosi sesekali merupakan hal yang wajar. Namun, tekanan psikologis yang berlangsung terus-menerus tanpa pengelolaan yang tepat dapat berdampak terhadap kondisi mental dan fisik.
Psikiater bidang Pengabdian Masyarakat PP-PDSKJI, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan bahwa kondisi psikologis memiliki keterkaitan dengan kesehatan tubuh.
“Ketika seseorang mengalami stres, otak mengaktifkan HPA axis dan sistem saraf simpatis. Tubuh kemudian menghasilkan berbagai hormon dan mediator stres, termasuk kortisol dan katekolamin,” ujar dr. Lahargo," di kutip dari berbagai sumber Rabu (14/8/2026).
Stres yang Berlangsung Lama Dapat Memengaruhi Tubuh
Stres pada dasarnya merupakan respons alami tubuh ketika seseorang menghadapi tekanan, ancaman, atau situasi yang membutuhkan perhatian. Dalam kondisi normal, respons tersebut membantu tubuh mempersiapkan diri menghadapi situasi yang dihadapi.
Namun, kondisi berbeda dapat terjadi ketika stres berlangsung dalam waktu panjang dan tidak dikelola dengan baik.
Menurut dr. Lahargo, stres kronis dapat memengaruhi pengaturan hormon kortisol serta sensitivitas reseptor glukokortikoid. Selain itu, kondisi tersebut juga berpotensi mengganggu keseimbangan sitokin yang berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh.
Perubahan tersebut dapat memengaruhi respons peradangan dan fungsi sel imun.
Artinya, tekanan psikologis tidak hanya berkaitan dengan kondisi pikiran. Dampaknya dapat melibatkan berbagai sistem dalam tubuh, mulai dari otak, sistem saraf, sistem hormonal, hingga sistem kekebalan tubuh.
Memendam Emosi Tidak Berarti Menjadi Penyebab Semua Penyakit
Meski tekanan psikologis dapat memengaruhi sejumlah proses biologis dalam tubuh, bukan berarti setiap gangguan kesehatan fisik disebabkan oleh masalah emosional.
Penyakit dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Di antaranya faktor genetik, pola hidup, lingkungan, infeksi, serta kondisi medis tertentu.
Oleh sebab itu, keluhan fisik tidak seharusnya langsung dianggap sebagai akibat dari emosi yang selama ini dipendam.
Meski demikian, mengelola emosi dan tekanan psikologis tetap penting untuk menjaga kesehatan secara menyeluruh.
Seseorang dapat mencoba mengenali dan memahami emosinya, kemudian menyalurkannya melalui cara yang sehat. Berbicara dengan orang yang dipercaya juga dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi beban psikologis.
Jika tekanan emosional terasa semakin berat atau mengganggu aktivitas sehari-hari, berkonsultasi dengan tenaga profesional dapat menjadi langkah yang tepat.