JAKARTA, Cobisnis.com - Sejak kecil, kita dibiasakan oleh orang tua untuk sarapan sebelum memulai aktivitas sehari-hari. Tetapi sayangnya, sebanyak 28 persen anak muda kini tidak suka sarapan.
Padahal, sarapan pagi sangatlah penting untuk mengisi kembali energi tubuh dan kadar gula setelah tidur malam. Dengan begitu, sarapan juga dapat meningkatkan fokus, mencegar rasa lemas, menjaga berat badan dan mendukung kesehatan tubuh.
Dilansir dari eatingwell, Sabtu (22/08/2026) sebuah studi baru berupaya menguji gagasan tersebut. Para peneliti ingin mengetahui apakah mengonsumsi sarapan, terutama sarapan tinggi protein, dapat meningkatkan asupan nutrisi bagi remaja dan membentuk pola makan yang lebih sehat sepanjang hari.
Mereka mempresentasikan hasil penelitian mereka di konferensi Nutrition 2026 yang diselenggarakan oleh American Society for Nutrition.
Bagaimana Studi Ini Dilakukan?
Studi ini mengikuti 128 peserta berusia antara 14 dan 21 tahun. Mereka semua memiliki kebiasaan melewatkan sarapan, yaitu tidak makan setidaknya enam kali seminggu.
Para peserta secara acak dibagi menjadi tiga kelompok. Satu kelompok mengonsumsi sarapan yang lebih umum dengan sekitar 15 gram protein. Kelompok kedua mengonsumsi sarapan tinggi protein dengan sekitar 30 gram protein berkualitas tinggi. Kelompok ketiga tetap melewatkan sarapan seperti biasa.
Untuk menjaga konsistensi, para peneliti menyiapkan dan mengemas lebih dari 18 ribu makanan yang berisi hidangan sarapan seperti burrito, telur orak-arik, dan smoothie.
Pada awal penelitian, dan lagi pada bulan ketiga dan keenam, kelompok sarapan menerima kotak pendingin makanan yang berisi hidangan-hidangan tersebut. Peserta dapat makan sebanyak atau sesedikit yang mereka inginkan selama tiga hari, semuanya dari kenyamanan rumah.
Pengaturan ini membantu para peneliti melacak asupan dengan cermat sambil tetap menjaganya tetap realistis. Kepatuhan sangat mengesankan, dengan peserta mengonsumsi makanan yang disediakan lebih dari 90 persen dari waktu yang ditentukan.
Untuk mengukur apa yang dimakan setiap orang, tim menggunakan catatan asupan makanan 24 jam dan menimbang kotak pendingin makanan sebelum dan sesudah setiap periode, kemudian memasukkan data ke dalam perangkat lunak nutrisi untuk dianalisis.
Lantas, apa yang ditemukan dalam studi tersebut?
Menariknya, ketiga kelompok tersebut pada akhirnya mengonsumsi jumlah kalori yang hampir sama sepanjang hari, perbedaannya terletak pada kualitas makanan yang mereka konsumsi.
Remaja yang sarapan mengonsumsi lebih banyak serat, zat besi, seng, dan kolin secara keseluruhan, yang merupakan nutrisi yang mungkin tidak cukup didapatkan oleh banyak remaja.
Nutrisi-nutrisi ini berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan normal, mendukung pertumbuhan sel dan kekebalan tubuh.
Selanjutnya, kelompok dengan asupan protein tinggi memiliki keunggulan tambahan, karena mengonsumsi lebih banyak protein, zat besi, dan kolin dibandingkan kelompok dengan asupan protein normal.
Temuan tersebut juga menyentuh pola makan sepanjang hari. Kedua kelompok yang sarapan mengonsumsi lebih sedikit makanan penutup, permen, dan manisan dibandingkan dengan kelompok yang melewatkan sarapan. Dan kelompok yang mengonsumsi protein tinggi
Hasilnya, mengonsumsi sarapan, khususnya sarapan yang kaya protein, tampaknya mendorong remaja untuk memilih makanan yang lebih bergizi sepanjang hari dan membuat hari tampak menyenangkan