Terdengar Sopan tapi Sebenarnya Menghindar, Ini Tanda-tanda Permintaan Maaf yang Palsu

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 14 May 2026, 09:11 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Tidak semua kata maaf benar-benar tulus. Beberapa permintaan maaf justru terdengar seperti pembelaan diri dan membuat orang yang disakiti semakin bingung atau merasa bersalah.

Profesor psikologi Karina Schumann menyebut hal ini sebagai fake apology. Menurutnya, permintaan maaf palsu biasanya tidak disertai pengakuan kesalahan secara jelas dan hanya sebatas menyampaikan penyesalan.

Salah satu ciri paling umum adalah penggunaan kata “kalau”, seperti kalimat “Maaf kalau kamu tersinggung.” Fokusnya bukan pada kesalahan pelaku, melainkan pada perasaan orang lain.

Ciri lain adalah format “maaf, tapi…” yang biasanya diikuti alasan atau pembenaran. Psikolog Guy Winch menilai pola ini membuat permintaan maaf kehilangan makna karena pelaku tidak benar-benar bertanggung jawab.

Ada juga permintaan maaf yang justru menyalahkan reaksi korban, misalnya dengan mengatakan orang lain terlalu sensitif. Selain itu, sebagian orang mengalihkan kesalahan ke situasi atau pihak lain agar tidak terlihat sepenuhnya bersalah.

Permintaan maaf yang terlalu fokus pada alasan panjang lebar juga dianggap tidak sehat. Alih-alih memahami dampak yang ditimbulkan, pelaku malah sibuk menjelaskan kenapa ia melakukan hal tersebut.

Ciri paling jelas dari fake apology adalah tidak adanya perubahan perilaku setelahnya. Schumann dan Winch menegaskan bahwa permintaan maaf yang tulus harus disertai empati, tanggung jawab, dan usaha nyata untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.