Trump dan Netanyahu Beda Pandangan soal Serangan terhadap Iran

Oleh Hidayat Taufik pada 02 Nov 2026, 11:40 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com -  Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan memiliki perbedaan pandangan mengenai kemungkinan peningkatan operasi militer terhadap Iran.

Kedua pemimpin membahas perkembangan tersebut dalam percakapan melalui telepon pada Sabtu, 31 Oktober 2026. Pembicaraan itu turut menyinggung perkembangan terbaru negosiasi antara Washington dan Teheran.

Menurut laporan media AS Axios, Netanyahu mendorong agar serangan terhadap Iran segera dilakukan setelah pemilihan sela Amerika Serikat. Namun, Trump memilih memberi kesempatan lebih besar bagi jalur diplomasi yang masih berlangsung.

Sejumlah pejabat dari AS dan Israel menyebut terdapat perbedaan pandangan yang cukup tajam dalam pembicaraan tersebut. Pihak Israel menggambarkan percakapan berlangsung alot, sementara sumber di Washington menyatakan komunikasi kedua pemimpin berjalan tanpa hambatan berarti.

Di tengah perang yang telah memasuki bulan kedelapan, Trump menjalankan pendekatan berbeda terhadap Iran. Pemerintah AS tetap melakukan operasi militer, tetapi pada saat yang sama berupaya membuka peluang bagi tercapainya kesepakatan damai.

Kesepakatan tersebut dinilai penting untuk membuka kembali jalur vital minyak dan gas di Selat Hormuz.

Trump mengatakan proses diplomasi dengan Iran menunjukkan perkembangan positif. "Berjalan dengan baik," ujar Trump mengenai negosiasi dengan Iran untuk mengakhiri perang, dikutip dari AFP pada Senin (2/11/2026).

Meski demikian, Trump menyebut masih ada sejumlah persoalan yang perlu diselesaikan sebelum kesepakatan dapat tercapai.

Ia juga menegaskan Washington belum terburu-buru melakukan serangan baru. Menurutnya, kekuatan militer dan program nuklir Iran telah mengalami pelemahan.

Sikap tersebut juga berkaitan dengan situasi politik dalam negeri AS menjelang pemilihan sela. Konflik di Timur Tengah telah memicu kenaikan harga bahan bakar dan biaya hidup, yang berpotensi memengaruhi pilihan masyarakat di tempat pemungutan suara.

Sementara itu, peluang perundingan kembali muncul dari Teheran. Kepala Keamanan Iran Mohsen Rezaei mengungkapkan telah menerima surat dari Wakil Presiden AS JD Vance yang berisi upaya untuk menghidupkan kembali pembicaraan yang sebelumnya terhenti.

Perkembangan ini menunjukkan jalur diplomasi masih terbuka, meski perbedaan kepentingan antara Washington dan Tel Aviv terkait langkah selanjutnya terhadap Iran belum sepenuhnya menemukan titik temu.