Trump Klaim Greenland Bakal Jadi Ladang Minyak dan Gas Besar-besaran

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 15 Oct 2026, 11:06 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim eksplorasi minyak, gas, dan mineral berskala besar akan segera dimulai di Greenland. Pernyataan itu disampaikan melalui platform Truth Social pada Selasa (13/10).

Trump tidak menjelaskan lebih lanjut proyek atau perkembangan yang dimaksud. Padahal, upaya ekstraksi sumber daya di pulau tersebut selama ini menghadapi berbagai kendala.

Greenland merupakan wilayah otonom Denmark dengan kondisi iklim yang keras. Infrastruktur yang terbatas membuat perusahaan kesulitan mengembangkan cadangan mineral langka, minyak, dan gas, sehingga aktivitasnya masih sebatas eksplorasi.

Hambatan lain datang dari kebijakan lingkungan. Pada 2021, parlemen Greenland memutuskan tidak menerbitkan izin baru untuk pertambangan minyak dan gas karena mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan serta upaya mencegah krisis iklim semakin parah.

Pernyataan Trump muncul menjelang pemilihan paruh waktu Amerika Serikat pada 3 November. Kenaikan harga energi akibat perang AS dan Iran telah menambah tekanan bagi masyarakat Amerika, khususnya kelompok pekerja.

Di sisi lain, AS sebelumnya menandatangani kesepakatan dengan pemimpin Greenland dan Denmark untuk memperkuat keamanan di kawasan Arktik dan Atlantik Utara. Kesepakatan itu tercapai setelah ketegangan selama berbulan-bulan antara Trump dan NATO terkait ambisinya mengambil alih Greenland.

Namun, perjanjian tersebut tidak memberikan hak eksplorasi khusus bagi AS di Greenland. Kesepakatan itu justru mencakup pembatasan investasi negara-negara non-NATO pada sejumlah sektor strategis.

Naaja H. Nathanielsen, perwakilan Greenland di parlemen Denmark, menilai proyek ekstraksi sumber daya di wilayah tersebut masih membutuhkan waktu bertahun-tahun. Ia juga menegaskan bahwa pengembangan cadangan minyak Greenland bukan solusi cepat untuk mengatasi kekhawatiran harga energi di AS.

Greenland memiliki cadangan mineral tanah jarang yang dibutuhkan untuk memproduksi komputer, ponsel, baterai, hingga teknologi energi terbarukan. Saat ini, China masih mendominasi pasokan mineral penting tersebut, sementara Trump berupaya memperkuat posisi AS.

Badan Survei Geologi AS telah mengidentifikasi potensi cadangan minyak dan gas alam lepas pantai Greenland. Meski demikian, pengembangannya menghadapi tantangan besar karena sebagian deposit berada di bawah es Arktik, sementara ekstraksi mineral tanah jarang juga membutuhkan proses yang rumit.

Dengan keterbatasan infrastruktur, tantangan lingkungan, dan aturan perizinan yang berlaku, klaim Trump belum berarti kegiatan pertambangan akan segera berjalan. Pengembangan sumber daya Greenland masih memerlukan proses panjang sebelum dapat menghasilkan pasokan energi dan mineral dalam skala besar.