JAKARTA, Cobisnis.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuduh China melakukan dugaan pelanggaran data pemilu terbesar dalam sejarah Amerika Serikat. Ia menyampaikan pernyataan tersebut dalam pidato di Gedung Putih pada Kamis waktu setempat.
Trump mengklaim pemerintah China berupaya memengaruhi hasil Pemilu AS 2020. Menurutnya, Beijing ingin dirinya kalah karena kebijakan tarif dan sikap keras yang ia terapkan terhadap China.
Namun, Trump tidak menyampaikan bukti baru yang mendukung tuduhan tersebut. Selain itu, ia juga tidak mengumumkan langkah atau sanksi yang akan dijatuhkan kepada pemerintah China.
Pernyataan itu langsung memicu respons dari Beijing. Pejabat China menyampaikan keberatan dan menolak tuduhan yang dilontarkan Presiden AS tersebut.
Sementara itu, Gedung Putih memastikan persiapan kunjungan kenegaraan Presiden China Xi Jinping ke Washington tetap berlangsung. Agenda tersebut dijadwalkan berlangsung sekitar dua bulan mendatang.
Seorang pejabat Gedung Putih menyatakan proses perencanaan kunjungan berjalan sesuai jadwal. Meski begitu, pihaknya tidak memberikan penjelasan mengenai kemungkinan respons Amerika Serikat atas dugaan pelanggaran data yang disampaikan Trump.
Di sisi lain, situasi ini menimbulkan pertanyaan mengenai arah hubungan kedua negara. Tuduhan yang serius itu belum diikuti dengan kebijakan baru yang dapat memengaruhi hubungan diplomatik antara Washington dan Beijing.
Karena itu, perhatian kini tertuju pada langkah lanjutan pemerintah AS. Publik juga menunggu apakah isu tersebut akan memengaruhi agenda pertemuan Trump dan Xi Jinping dalam kunjungan kenegaraan mendatang.