JAKARTA, Cobisnis.com – Saat para tamu gala berdansa di ballroom mewah klub Mar-a-Lago di Palm Beach, Florida, suasana berbeda terjadi di balik tirai hitam yang dijaga ketat. Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, menjadikan klub pribadinya sebagai ruang komando darurat untuk mengawasi dimulainya serangan berkelanjutan terhadap Iran. Sejumlah pejabat tinggi keamanan nasional, termasuk Direktur Central Intelligence Agency, Menteri Luar Negeri, Menteri Pertahanan, serta Ketua Kepala Staf Gabungan telah lebih dulu tiba secara tertutup. Sebuah peta Timur Tengah yang menunjukkan posisi aset Amerika dan target Iran dipasang di ruangan tersebut.
Sebelum kembali ke ruang operasi darurat, Trump sempat menyapa tamu amal dengan mengatakan ia harus “pergi bekerja.” Foto-foto yang dirilis Gedung Putih memperlihatkan Trump tanpa dasi mengenakan topi bertuliskan “USA” saat memantau jalannya operasi, termasuk laporan yang menyebut tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta tiga personel militer Amerika. Namun, Trump tidak menyampaikan pidato resmi secara langsung atau menggelar konferensi pers televisi, sehingga publik hanya melihat dokumentasi visual yang dibagikan Gedung Putih.
Penggunaan Mar-a-Lago sebagai pusat pengambilan keputusan militer sensitif kembali memicu kekhawatiran kalangan profesional keamanan nasional. Klub privat tersebut tetap menerima anggota berbayar, meski dijaga ketat oleh Dinas Rahasia AS. Kekhawatiran meningkat setelah beredarnya foto kepala staf Trump, Susie Wiles, yang mengenakan jam tangan pintar, meskipun produsen perangkat itu menegaskan tidak memiliki mikrofon atau kemampuan komunikasi. Kritik terhadap penggunaan properti pribadi untuk operasi rahasia bukan hal baru, mengingat pada masa jabatan pertamanya Trump juga pernah membahas peluncuran rudal Korea Utara bersama Perdana Menteri Jepang saat makan malam terbuka di teras klub.
Mar-a-Lago, yang dibangun pada 1920-an oleh pewaris sereal Marjorie Merriweather Post, kini dilengkapi pengamanan tambahan seperti penembak jitu, anjing pelacak bom, patroli perairan, serta jaringan komunikasi aman. Meski demikian, lokasi tersebut tidak sepenuhnya kebal, setelah bulan lalu aparat menembak mati seorang pria bersenjata yang menerobos perimeter keamanan. Usai operasi militer akhir pekan ini, Dinas Rahasia menyatakan peningkatan pengamanan di sekitar Mar-a-Lago dan Gedung Putih, sementara Trump tetap berada di properti itu dan bahkan menghadiri acara penggalangan dana super PAC pendukungnya.