JAKARTA, Cobisnis.com – Konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel terus memanas tanpa tanda mereda. Sejumlah pernyataan terbaru dari para pemimpin dunia menunjukkan arah konflik masih akan berlanjut.
Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan bahwa pihaknya berada di atas angin dalam konflik ini. Ia menegaskan persatuan rakyat Iran menjadi kekuatan utama dalam menghadapi tekanan dari luar.
Khamenei juga menyebut asumsi musuh yang berharap Iran runtuh adalah kesalahan besar. Menurutnya, justru terjadi retakan di pihak lawan yang selama ini menyerang Iran.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan tidak tertarik pada gencatan senjata. Ia bahkan mengklaim bahwa pihaknya telah memenangkan konflik melawan Iran.
Trump menegaskan operasi militer akan terus berjalan selama dianggap masih diperlukan. Sikap ini memperlihatkan bahwa jalur diplomasi belum menjadi prioritas utama Washington saat ini.
Berbeda dengan itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai perang ini bukan pilihan negaranya. Ia menyebut konflik terjadi akibat agresi yang dipaksakan oleh pihak luar.
Iran juga menolak gencatan senjata sepihak karena dinilai berisiko mengulang pengalaman sebelumnya. Pemerintah Iran menuntut jaminan bahwa konflik benar-benar berakhir secara permanen.
Dari sisi geopolitik, Rusia mulai menunjukkan kedekatan dengan Iran. Presiden Vladimir Putin menyampaikan dukungan moral dan menegaskan posisi Rusia sebagai mitra strategis Teheran.
Meski demikian, laporan menyebut bantuan konkret dari Rusia masih terbatas. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana Moskow akan terlibat dalam konflik tersebut.
Di lapangan, serangan antara Iran dan Israel masih terus berlangsung. Bahkan, serangan juga meluas ke wilayah lain seperti Beirut yang menargetkan kelompok Hizbullah.
Data terbaru menunjukkan lebih dari 2.000 orang telah tewas sejak konflik memanas pada 28 Februari. Angka ini menandakan dampak kemanusiaan yang semakin besar seiring waktu.
Selain korban jiwa, infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah turut terdampak. Harga minyak global pun melonjak hingga 50%, memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi dunia.
Situasi semakin tegang dengan munculnya ledakan di Uni Emirat Arab dan Teheran. Sistem pertahanan udara diaktifkan untuk merespons ancaman rudal dan drone yang terus berdatangan.
Negara-negara Teluk kini berada dalam tekanan tinggi dan cenderung semakin mendekat ke Amerika Serikat. Kondisi ini berpotensi memperluas konflik jika tidak segera diredakan.