JAKARTA, Cobisnis.com – Warga Taiwan siapkan jalur aman ketika tekanan militer dari China terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Sebagian warga memilih langkah perlindungan pribadi untuk menghadapi kemungkinan krisis.
Pemerintah Taiwan sudah meningkatkan anggaran pertahanan nasional. Selain itu, masa wajib militer kini diperpanjang menjadi satu tahun.
Namun, sebagian masyarakat mengambil langkah berbeda. Mereka mulai memindahkan dana ke luar negeri dan menyiapkan dokumen perjalanan tambahan.
Nelson Yeh, pekerja keuangan di Taipei, membuka rekening bank di Singapore tiga tahun lalu. Ia juga memindahkan sekitar seperlima kekayaannya ke luar negeri.
Setelah itu, ia mengurus kewarganegaraan kedua di Turkey. Ia dan istrinya kemudian memperoleh paspor tambahan dalam waktu sembilan bulan.
Menurut Yeh, langkah tersebut memberi rasa aman jika konflik benar-benar terjadi. Karena itu, ia merasa rencana cadangan tetap perlu disiapkan.
Ketegangan global juga memperkuat kekhawatiran warga. Konflik di Timur Tengah dinilai menambah ketidakpastian politik dunia.
Dalam beberapa tahun terakhir, Xi Jinping meningkatkan tekanan melalui latihan militer di sekitar Taiwan. Beijing juga terus menegaskan klaim atas pulau tersebut.
Sebagai respons, warga mulai mengikuti pelatihan pertahanan sipil. Beberapa organisasi lokal juga membuka pelatihan pertolongan pertama.
Konsultan migrasi menyebut permintaan pindah ke luar negeri meningkat. Banyak warga mencari negara dengan akses visa yang lebih mudah.
Sebagian investor memilih membeli properti di Thailand. Ada juga yang menempatkan aset di Cambodia sebagai perlindungan jangka panjang.
Menurut analis, tren ini belum menunjukkan eksodus besar. Namun, rasa waspada terus tumbuh di kalangan kelas menengah perkotaan.
Pemerintah Taiwan sendiri tetap mendorong kesiapan nasional. Presiden Lai Ching-te mengusulkan anggaran pertahanan baru bernilai besar.