JAKARTA, Cobisnis.com - Sebanyak 110 warga negara asing yang masuk dalam daftar buronan Interpol diketahui bersembunyi di Korea Selatan berdasarkan data Badan Kepolisian Nasional Korea atau NPA per 12 Agustus 2026.
Data tersebut diserahkan NPA kepada anggota parlemen Kim Joon-hwan pada Selasa (8/9/2026) dan mencakup WNA yang dicari karena melakukan kejahatan di negara asal maupun negara lain.
Berdasarkan kewarganegaraan, warga Tiongkok menjadi kelompok terbesar dengan 40 permintaan Interpol atau sekitar 36 persen dari total buronan.
Posisi berikutnya ditempati warga Uzbekistan dengan 19 permintaan, Mongolia 17 permintaan, dan Vietnam 13 permintaan, sementara kasus lainnya melibatkan sejumlah negara Asia seperti Kazakhstan, Rusia, Kyrgyzstan, Thailand, dan Jepang.
Dari jenis kejahatan, penipuan menjadi kasus terbanyak dengan 47 perkara, disusul kategori lainnya sebanyak 29 kasus yang mencakup pelanggaran perlindungan anak dan remaja, penculikan, penahanan, serta prostitusi.
Kasus narkoba tercatat tujuh perkara, sedangkan pencurian, pelanggaran hukum lalu lintas, cedera, dan penyerangan masing-masing mencapai lima kasus.
Saat Interpol meminta bantuan, NPA akan meneruskannya kepada kepolisian provinsi yang memiliki yurisdiksi atas lokasi tersangka untuk melakukan upaya penangkapan.
Tahun ini, NPA meningkatkan personel yang menangani kerja sama tersebut dari 22 menjadi 64 orang, sementara jumlah buronan yang dipulangkan naik dari 13 orang sepanjang tahun lalu menjadi 24 orang hingga Agustus 2026.
Peningkatan investigasi domestik juga disebut mendorong penangkapan warga Korea yang melarikan diri ke luar negeri karena kerja sama internasional berjalan berdasarkan prinsip timbal balik.
Pada Agustus 2026, Kepolisian Provinsi Gyeonggi Nambu menangkap dan memulangkan seorang pria asal Tiongkok berusia 50-an yang melakukan perampokan dan pembunuhan di negaranya pada 1997 sebelum masuk Korea Selatan pada 2017 sebagai imigran ilegal.
Kerja sama Korea Selatan dengan Tiongkok juga menghasilkan pemulangan 192 warga Korea yang melarikan diri ke Tiongkok setelah terlibat kasus penipuan dan voice phishing pada 2025.
Sementara itu, NPA telah memulangkan 13 buronan ke Mongolia sepanjang 2026, yang menunjukkan peningkatan penangkapan buronan hingga 330 persen dibandingkan 2025.
Kerja sama keamanan kedua negara juga diperkuat setelah seorang warga Korea diserang di Ulaanbaatar pada Februari 2026 dan NPA meminta penyelidikan baru serta tindakan disipliner terhadap aparat setempat.
"Ini adalah masalah serius yang secara langsung mengancam keselamatan warga negara kita ketika buronan yang melakukan kejahatan berat di luar negeri bersembunyi di Korea," kata Kim, dikutip dari berbagai sumber, Rabu (09/09/2026).
"Polisi harus memperluas personel dan anggaran yang didedikasikan untuk kerja sama Interpol guna meningkatkan tingkat penangkapan buronan secara signifikan," tambah Kim.