JAKARTA, Cobisnis.com – Pemerintahan Presiden Donald Trump kembali mengklaim Iran telah menyetujui sejumlah konsesi penting dalam negosiasi yang sedang berlangsung.
Namun, pemerintah Iran terus membantah klaim tersebut dan menegaskan tidak ada komitmen baru yang disepakati. Perbedaan pernyataan itu muncul setelah Amerika Serikat merilis memorandum kesepahaman atau MOU pekan lalu.
Dokumen tersebut memicu perdebatan karena dinilai lebih menguntungkan Iran. Salah satu isu utama adalah inspeksi program nuklir Iran.
Trump menyatakan Iran telah menyetujui inspeksi nuklir tingkat tertinggi untuk jangka waktu yang tidak terbatas. Menurut Trump, kesepakatan tersebut menjadi syarat penting agar perundingan tetap berlanjut.
Sementara itu, Wakil Presiden AS, JD Vance, menyebut Iran telah mencapai kemajuan besar dengan menerima inspeksi dari International Atomic Energy Agency.
Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, membantah adanya perubahan signifikan. Ia menegaskan Iran hanya akan melanjutkan kerja sama dengan IAEA sesuai prosedur yang berlaku saat ini.
Selain itu, Iran menolak klaim bahwa negara tersebut membuka akses baru ke fasilitas nuklir yang mengalami kerusakan. Baghaei juga mengatakan Teheran tidak membuat komitmen tambahan dalam perundingan terbaru.
Di sisi lain, IAEA sebenarnya telah memiliki akses terbatas ke sejumlah fasilitas nuklir Iran. Karena itu, sebagian pengamat menilai akses tersebut bukan langkah baru yang signifikan.
Inspeksi yang lebih luas juga pernah menjadi bagian penting dari kesepakatan nuklir era Barack Obama. Trump kemudian menarik Amerika Serikat dari kesepakatan tersebut saat masa jabatan pertamanya.
Meski menghadapi bantahan dari Iran, Trump tetap mempertahankan klaimnya. Karena itu, perbedaan pandangan antara Washington dan Teheran masih menjadi tantangan utama dalam proses negosiasi saat ini.