AS Gelontorkan Rp14 Triliun untuk Pengiriman 25 Ribu Drone ke Timur Tengah

Oleh Hidayat Taufik pada 06 Nov 2026, 11:05 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Amerika Serikat (AS) meningkatkan kekuatan pertahanannya di kawasan Timur Tengah dengan mengirim lebih dari 25.000 sistem nirawak atau drone sepanjang tahun ini. Pengiriman tersebut ditujukan untuk memperkuat kemampuan militer dalam menghadapi ancaman serangan drone.

Langkah ini dilakukan setelah Pentagon mengalokasikan investasi sebesar US$782 juta atau sekitar Rp14 triliun untuk pengembangan dan pengadaan teknologi nirawak.

Pengiriman tersebut diumumkan Pentagon pada Rabu (4/11/2026) sebagai bagian dari strategi modernisasi pertahanan militer AS. Pemerintah juga berupaya memperluas pemanfaatan teknologi nirawak dalam operasi militer di berbagai medan pertempuran.

Mengutip Anadolu Agency, paket pengiriman mencakup lebih dari 1.300 kendaraan udara nirawak atau unmanned aerial vehicle (UAV) untuk serangan satu arah. Selain itu, terdapat lebih dari 100 kapal permukaan dan bawah laut tanpa awak serta lebih dari 24.000 sistem pertahanan anti-drone.

Teknologi anti-drone tersebut disiapkan untuk melindungi personel militer AS dari ancaman serangan pesawat nirawak yang digunakan pihak lawan.

Penyaluran berbagai perangkat tersebut dilakukan melalui Direct Reporting Portfolio Manager for Unmanned Systems (DRPM-UxS). Sementara itu, koordinasi operasi pertahanan terhadap ancaman drone berada di bawah Joint Interagency Task Force 401.

AS Percepat Pengembangan Teknologi Nirawak

Pentagon menyebut pengadaan tersebut menjadi bagian dari perubahan strategi militer AS. Pemerintah berupaya mempercepat proses pengadaan sekaligus meningkatkan kapasitas produksi sistem nirawak dalam jumlah besar dengan biaya lebih efisien.

Penggunaan teknologi tersebut diharapkan memberikan tambahan kemampuan operasional bagi komandan militer di lapangan. Selain itu, sistem nirawak yang relatif terjangkau dapat mengurangi ketergantungan terhadap persenjataan konvensional berbiaya tinggi.

"Di bawah arahan Wakil Menteri (Pete) Hegseth, kami bergerak dengan kecepatan pertempuran modern untuk melengkapi pasukan kami dengan kekuatan yang menentukan dan terjangkau," kata CEO Project Agincourt sekaligus DRPM-UxS, Owen West.

Penguatan teknologi nirawak juga berkaitan dengan rencana pembentukan Autonomous Warfare Command (AUTOWARCOM), sebuah komando tempur dengan kepemimpinan bintang empat.

Pentagon telah mengusulkan pembentukan komando tersebut dan menargetkan operasionalnya dimulai pada 1 Oktober 2027.

Selain kawasan Timur Tengah, AS berencana memperluas pemanfaatan teknologi nirawak dan sistem otonom untuk mendukung operasi militernya di kawasan Indo-Pasifik, Eropa, serta wilayah lain yang berada di bawah tanggung jawab Pasukan Gabungan AS.

Pentagon juga memastikan pengiriman sistem nirawak kepada Komando Pusat AS atau United States Central Command (CENTCOM) akan terus berlangsung sebagai bagian dari penguatan kemampuan pertahanan di kawasan tersebut.