JAKARTA, Cobisnis.com - Pemerintah Jerman menuduh Rusia berada di balik upaya serangan drone yang menargetkan sejumlah bandara di Uni Eropa. Tuduhan tersebut muncul setelah insiden di Bandara Leipzig/Halle pada 4 Agustus 2026.
Menteri Dalam Negeri Jerman Alexander Dobrindt mengatakan drone dalam insiden tersebut membawa bahan peledak. Menurutnya, pola operasi itu memiliki kemiripan dengan metode yang biasa dikaitkan dengan operasi hibrida Rusia.
Dobrindt menyebut penyelidik telah menemukan bukti bahwa pihak yang mengoperasikan drone bekerja untuk entitas negara Rusia. Ia mengatakan hasil penyelidikan polisi, pola kejahatan, dan temuan intelijen mengarah pada kesimpulan tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Dobrindt pada Selasa, 1 September 2026. Pemerintah Jerman menilai insiden di Leipzig bukan kejadian yang berdiri sendiri.
Menurut Dobrindt, sejumlah negara Eropa juga melaporkan peningkatan serangan sabotase dan percobaan tindakan serupa yang diduga berkaitan dengan Rusia. Ia meyakini terdapat keterkaitan antara berbagai insiden tersebut.
Kasus ini menambah perhatian negara negara Eropa terhadap ancaman sabotase yang menyasar infrastruktur penting. Bandara menjadi salah satu fasilitas yang dinilai rentan karena gangguan operasional dapat berdampak luas terhadap aktivitas penerbangan.
Insiden di Leipzig/Halle juga menjadi sorotan karena penggunaan drone dapat mengganggu aktivitas bandara sekaligus menimbulkan risiko keamanan. Dugaan keterlibatan bahan peledak membuat kasus tersebut mendapat perhatian lebih serius dari otoritas Jerman.
Tuduhan Jerman muncul di tengah hubungan yang masih tegang antara Rusia dan negara negara Eropa. Pemerintah Jerman kini menempatkan dugaan operasi tersebut sebagai bagian dari ancaman keamanan yang lebih luas.
Meski demikian, tuduhan keterlibatan Rusia tersebut masih menjadi bagian dari hasil penyelidikan yang disampaikan pemerintah Jerman. Otoritas terkait terus mengumpulkan bukti untuk mengungkap pihak yang bertanggung jawab atas berbagai insiden tersebut.