JAKARTA, Cobisnis.com - Microsoft kembali menghadapi persoalan keamanan setelah peneliti independen bernama Nightmare Eclipse memublikasikan celah zero-day ShieldBreak yang dapat menyerang sistem operasi Windows.
Kerentanan tersebut memanfaatkan kelemahan pada Windows Defender dan berpotensi memungkinkan peretas meningkatkan hak akses dari pengguna biasa menjadi administrator dengan kendali penuh terhadap perangkat.
Celah ini berdampak pada sejumlah sistem, termasuk Windows 10, Windows 11 hingga Windows Server 2025, sementara peneliti keamanan senior Will Dormann telah memverifikasi keberadaan ShieldBreak dan memastikan eksploitasi dapat dilakukan ketika Windows Defender aktif.
ShieldBreak merupakan pengembangan dari celah RoguePlanet yang sebelumnya telah ditambal Microsoft, tetapi Nightmare Eclipse menunjukkan bahwa perbaikan tersebut masih dapat ditembus melalui metode baru.
Karena diungkap sebelum Microsoft menyiapkan perbaikan, ShieldBreak kini masuk kategori zero-day vulnerability dan belum memiliki pembaruan keamanan resmi.
"Kami menyadari adanya kerentanan yang dilaporkan dan saat ini sedang secara aktif menyelidiki keabsahan serta potensi dampaknya," ujar perwakilan Microsoft, dikutip dari berbagai sumber, Kamis (13/08/2026).
Publikasi celah tersebut juga berkaitan dengan perselisihan panjang antara Nightmare Eclipse dan Microsoft mengenai penanganan laporan keamanan dari peneliti independen.
Peneliti tersebut mengeklaim Microsoft kerap mengabaikan laporan bug dan memperlakukan peneliti secara tidak adil, hingga akhirnya memilih membuka informasi mengenai ShieldBreak kepada publik.
Pengungkapan itu dilakukan sehari setelah Patch Tuesday, agenda rutin Microsoft untuk merilis pembaruan keamanan, di tengah meningkatnya jumlah celah pada produk perusahaan dalam beberapa bulan terakhir.
Microsoft sendiri masih melakukan penyelidikan terhadap validitas dan potensi dampak ShieldBreak, sedangkan patch resmi untuk menutup kerentanan tersebut belum tersedia.