YouTube Perketat Aturan Monetisasi Konten Seperti Ini Bisa Sulit Dapat Uang

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 13 Aug 2026, 13:03 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - YouTube memperbarui aturan monetisasi bagi kreator yang tergabung dalam YouTube Partner Program atau YPP. Perubahan ini menyoroti konten yang dinilai tidak autentik, termasuk video yang dibuat secara massal dan terlalu repetitif.

Aturan tersebut bukan berarti YouTube melarang penggunaan kecerdasan buatan atau AI dalam pembuatan video. Pembaruan ini lebih menekankan pentingnya konten yang memiliki nilai orisinal dan tidak diproduksi secara berulang dengan pola yang sama.

"YouTube tidak mengubah kebijakan mengenai konten yang dibuat menggunakan AI. Yang diperjelas adalah kebijakan terkait konten yang tidak autentik." dikutip dari berbagai sumber, (12/06/2026)

Konten yang dibuat menggunakan template secara berulang dengan sedikit perubahan dapat masuk kategori tidak autentik. Video semacam ini dinilai memiliki variasi dan kontribusi kreatif yang minim bagi penonton.

YouTube juga menyoroti konten yang diproduksi dalam jumlah besar dengan format yang hampir sama. Kreator yang mengunggah banyak video dengan pola serupa perlu memastikan setiap konten memiliki perbedaan dan nilai yang jelas.

Penggunaan AI tetap diperbolehkan dalam proses pembuatan konten. Kreator dapat memanfaatkan teknologi tersebut selama hasil akhirnya tetap memberikan nilai bagi penonton dan memenuhi ketentuan monetisasi.

Kreator yang menggunakan materi milik pihak lain juga masih memiliki peluang mendapatkan monetisasi. Syaratnya, materi tersebut harus diberikan perubahan atau tambahan yang cukup sehingga menghasilkan konten dengan nilai baru.

"Konten yang menggunakan kembali materi orang lain dapat dimonetisasi jika kreator memberikan komentar, perubahan, atau nilai edukasi dan hiburan yang signifikan."

Sebaliknya, konten yang hanya mengambil materi dari sumber lain dengan perubahan minimal berisiko tidak memenuhi standar monetisasi. YouTube menilai kontribusi kreator menjadi bagian penting dalam menentukan apakah sebuah konten layak menghasilkan pendapatan.

Dalam proses peninjauan, YouTube dapat melihat berbagai aspek dari sebuah kanal. Penilaian dapat mencakup tema utama kanal, video terbaru, video dengan jumlah penayangan tertinggi, porsi waktu tonton, metadata, hingga informasi pada halaman kanal.

Perubahan ini membuat kreator perlu lebih memperhatikan kualitas dibanding sekadar mengejar jumlah unggahan. Produksi video dalam jumlah besar tidak otomatis menghasilkan pendapatan jika kontennya dinilai repetitif dan tidak memberikan nilai baru.

Pada akhirnya, YouTube tetap membuka ruang bagi kreator untuk menggunakan AI maupun materi dari sumber lain. Namun, kreativitas, orisinalitas, dan nilai tambah tetap menjadi faktor penting agar konten dapat dipertahankan dalam program monetisasi.