JAKARTA, Cobisnis.com – PT Bursa Berjangka Jakarta (JFX) menilai penguatan mekanisme price discovery menjadi langkah penting dalam membangun harga referensi komoditas domestik yang semakin kredibel. Proses tersebut dinilai mampu mencerminkan kondisi pasar nasional melalui aktivitas perdagangan yang transparan, likuid, dan berlangsung secara berkesinambungan.
Direktur Utama JFX, Yazid Kanca Surya, mengatakan harga referensi tidak lahir dari penetapan sepihak, melainkan dari transaksi yang benar-benar mencerminkan interaksi antara penawaran dan permintaan di pasar. Menurutnya, mekanisme pembentukan harga yang sehat akan menghasilkan acuan yang lebih akurat bagi pelaku usaha.
“Harga referensi dibangun melalui proses price discovery. Ketika transaksi berlangsung secara terbuka, melibatkan banyak pelaku pasar, dan dilakukan secara berkesinambungan, harga yang terbentuk akan semakin mencerminkan kondisi pasar yang sesungguhnya,” ujar Yazid.
Ia menilai penguatan price discovery semakin penting karena Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia. Selama ini, banyak pelaku usaha masih menggunakan benchmark internasional sebagai referensi harga komoditas.
Padahal, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat pembentukan harga di dalam negeri sehingga mampu menghadirkan referensi yang lebih mencerminkan karakteristik pasar nasional. Semakin aktif perdagangan berlangsung melalui mekanisme bursa dengan kontrak yang terstandarisasi, semakin representatif pula harga yang terbentuk.
Sebagai gambaran, harga acuan global olein yang mengacu pada FPOL Bursa Malaysia Derivatives (BMD) naik 3,52% pada pekan terakhir Juli 2026, dari USD1.135 per ton menjadi USD1.175 per ton. Kenaikan tersebut dipengaruhi menguatnya harga minyak mentah Brent, meningkatnya permintaan dari China, serta ekspektasi pasokan minyak sawit Indonesia yang lebih ketat.
Di tengah dinamika tersebut, perdagangan olein di JFX tetap menunjukkan likuiditas yang terjaga. Sepanjang periode 28 Juni hingga 25 Juli 2026, volume transaksi olein mencapai 67.564 lot dengan nilai sekitar Rp6,85 triliun yang dinilai menjadi bagian dari proses pembentukan harga yang semakin aktif.
Selain olein, aktivitas perdagangan komoditas lain juga terus berkembang. Sepanjang Juli 2026, transaksi timah ekspor mencapai 2.855 lot senilai sekitar Rp2,66 triliun, sementara aktivitas Perdagangan Akses Luar Negeri (PALN) membukukan nilai transaksi sekitar Rp54,45 triliun sehingga total nilai transaksi perdagangan JFX sepanjang Juli mencapai sekitar Rp3.268 triliun. Menurut Yazid, semakin kuat proses price discovery, semakin besar manfaatnya bagi pelaku usaha dalam mengelola risiko sekaligus mendukung transparansi perdagangan komoditas nasional.