Jamkrindo

Gerakan Rakyat Dukung Anies, Peta Politik Partai Jelang Pilpres 2029 Mulai Bergerak

Oleh Hidayat Taufik pada 29 Jan 2026, 15:00 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Dukungan Partai Gerakan Rakyat kepada mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk Pilpres 2029 dinilai berpotensi memicu pergeseran strategi politik di sejumlah partai lain. Pengamat politik Arifki Chaniago menyebut langkah tersebut membuat partai-partai di luar Gerakan Rakyat mau tak mau mulai menyusun ulang peta politik mereka lebih awal.

Menurut Arifki, deklarasi dukungan yang dilakukan jauh sebelum tahapan Pilpres dimulai telah membuka ruang kompetisi lebih dini. Kondisi ini, kata dia, memaksa partai politik untuk menentukan sikap, apakah tetap menunggu momentum atau segera mengamankan figur yang akan diusung pada Pilpres 2029.

“Deklarasi ini membuka ruang kompetisi lebih awal. Partai lain akan dipaksa berpikir ulang, apakah tetap menunggu momentum atau mulai mengamankan figur sejak sekarang,” ujar Arifki kepada awak media, Kamis (22/1).

Selain itu, Arifki menyoroti putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menetapkan presidential threshold menjadi nol persen dari sebelumnya 20 persen. Menurutnya, keputusan tersebut semakin membuka peluang bagi munculnya tokoh baru maupun kandidat alternatif di tingkat nasional.

Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia itu menilai dinamika juga berpotensi terjadi di partai-partai yang sebelumnya menjadi pendukung Anies pada Pilpres 2024, seperti NasDem dan PKS, dalam menentukan arah politik dan kandidat yang akan diusung pada Pilpres 2029. Ia menilai dukungan Gerakan Rakyat terhadap Anies menghadirkan dilema politik antara menjaga konsistensi sikap atau membuka opsi baru seiring perubahan peta koalisi.

Lebih lanjut, Arifki menyebut dukungan tersebut juga akan mendorong PKB dan Partai Demokrat untuk melakukan evaluasi strategi politik menjelang 2029.

Pasalnya, kedua partai tersebut memiliki figur yang dinilai berpotensi bersaing di tingkat nasional, yakni Muhaimin Iskandar dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Dalam situasi ambang batas pencalonan presiden nol persen, Arifki menilai pilihan untuk sekadar menunggu kepastian sebagai calon wakil presiden pendamping Prabowo Subianto pada Pilpres 2029 bukanlah langkah yang paling strategis.