Harga Minyak Global Meroket Usai Serangan Kapal di Sekitar Selat Hormuz

Oleh Hidayat Taufik pada 02 Mar 2026, 13:17 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com — Harga minyak dunia mengalami lonjakan signifikan setelah insiden penyerangan terhadap sejumlah kapal di kawasan Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima distribusi minyak dan gas dunia. Situasi geopolitik semakin memanas seiring tudingan bahwa serangan tersebut berkaitan dengan eskalasi konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Laporan dari Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris atau UKMTO menyebutkan dua kapal mengalami kerusakan akibat proyektil, sementara satu kapal lainnya terdampak ledakan di jarak dekat.

Pemerintah Iran juga mengeluarkan imbauan keras agar kapal-kapal tidak melintas di wilayah tersebut, yang berdampak pada hampir terhentinya arus pelayaran internasional.

Di pasar Asia, harga minyak mentah Brent tercatat naik lebih dari 7% hingga menembus USD 78 per barel, sedangkan minyak mentah AS melonjak sekitar 7,3% ke level USD 71,9 per barel. Pelaku pasar masih bersikap hati-hati sambil menunggu kepastian apakah jalur distribusi energi global dapat kembali beroperasi normal.

Sebelumnya, kelompok negara produsen minyak OPEC+ telah menyepakati peningkatan produksi sebesar 206.000 barel per hari sebagai upaya meredam lonjakan harga. Namun, sejumlah pengamat menilai kebijakan tersebut belum tentu mampu menahan tekanan pasar jika konflik terus bereskalasi.

Di sisi lain, perusahaan pelayaran internasional seperti Maersk mengambil langkah antisipatif dengan mengalihkan rute pelayaran dan menghentikan sementara operasional di jalur-jalur yang dinilai berisiko tinggi. Para analis memperingatkan, apabila penutupan Selat Hormuz berlangsung dalam jangka panjang, harga minyak dunia berpotensi melesat hingga melampaui USD 100 per barel.