JAKARTA, Cobisnis.com - Kementerian Luar Negeri Iran mengecam tuduhan Perdana Menteri Inggris Andy Burnham yang mengaitkan Teheran dengan dugaan rencana serangan terhadap pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) Fairford di Gloucestershire.
Kecaman tersebut muncul setelah Burnham menyatakan pada Senin (12 Oktober 2026) bahwa dugaan rencana yang terungkap pada akhir September itu kemungkinan besar dikoordinasikan dari Iran dan hampir pasti diarahkan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Pemerintah Iran menilai tuduhan tersebut sebagai “siasat kotor untuk mendorong kampanye anti-Iran dan menghindari pertanggungjawaban atas partisipasi Inggris dalam agresi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap bangsa Iran,” dikutip dari berbagai sumber, Rabu (14 Oktober 2026).
Kementerian Luar Negeri Iran juga mempersoalkan penggunaan istilah seperti “sangat mungkin” dan “hampir pasti” oleh pemerintah Inggris, yang dinilai memberikan kesan kuat terhadap tuduhan tanpa disertai pembuktian yang memadai.
Insiden yang menjadi dasar tuduhan tersebut terjadi pada 27 September 2026, ketika polisi Inggris menangkap lima pria berusia 20-an tahun di dekat RAF Fairford setelah menerima laporan mengenai tiga kendaraan mencurigakan yang bergerak menuju pangkalan tersebut.
Pangkalan RAF Fairford diketahui digunakan militer Amerika Serikat untuk melancarkan serangan terhadap Iran, sehingga insiden itu memicu penyelidikan terkait kemungkinan adanya motif yang berkaitan dengan negara asing.
Kelima pria tersebut dibebaskan dengan jaminan polisi pada 28 September setelah kendaraan dan sejumlah lokasi terkait mereka diperiksa, sementara penyelidikan mengenai dugaan pelanggaran terkait bahan peledak dan persiapan aksi terorisme tetap berlanjut.
Dalam pemeriksaan kendaraan, polisi tidak menemukan alat peledak rakitan, tetapi menemukan sejumlah bahan bakar bensin yang menjadi bagian dari penyelidikan lebih lanjut.
Pemerintah Inggris menyatakan dugaan keterlibatan Iran berdasarkan penilaian aparat keamanan, sedangkan Teheran menolak tuduhan tersebut dan meminta Inggris menyampaikan bukti yang mendukung klaimnya.
Perbedaan sikap kedua negara membuat insiden RAF Fairford menjadi bagian dari meningkatnya ketegangan diplomatik antara London dan Teheran, di tengah konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.