IRESS Minta Batu Bara Berkualitas Diprioritaskan untuk PLN

Oleh Rizki Meirino pada 13 Oct 2026, 15:59 WIB

IRESS meminta pemerintah memprioritaskan batu bara kalori menengah dan tinggi untuk PLN sebelum diekspor demi menjaga pasokan listrik nasional.

JAKARTA, Cobisnis.com - Indonesia Resources Studies (IRESS) meminta pemerintah memprioritaskan pasokan batu bara kalori menengah dan tinggi untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PT PLN (Persero) sebelum dialokasikan ke pasar ekspor demi menjaga ketersediaan listrik bagi masyarakat.

Direktur Eksekutif IRESS Marwan Batubara menilai kebijakan tersebut diperlukan karena cadangan batu bara dengan spesifikasi yang dibutuhkan sejumlah PLTU semakin terbatas.

“Kebijakan tersebut dibutuhkan karena cadangan stok batu bara kalori menengah dan tinggi (medium rank coal/MRC dan high rank coal/HRC) dalam negeri terbatas, sementara banyak PLTU masih membutuhkan spesifikasi tersebut,” tegas Marwan Batubara, dikutip dari berbagai sumber, Selasa (13 Oktober 2026).

Mengutip data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), batu bara dengan kalori sekitar 6.000 kcal/kg Gross As Received (GAR) hanya mencakup sekitar 5% dari cadangan nasional, sedangkan batu bara 5.000 GAR sekitar 8%.

Sebaliknya, batu bara berkalori 4.200 GAR mendominasi hingga sekitar 73% dari cadangan nasional, sementara Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga mengakui kualitas batu bara Indonesia terus menurun seiring menipisnya cadangan berkalori tinggi.

Gross As Received (GAR) merupakan ukuran nilai kalor batu bara berdasarkan kondisi aslinya saat diterima, termasuk seluruh kandungan air di dalamnya.

IRESS mencatat persoalan kualitas batu bara turut mencuat saat pemadaman bergilir di Jawa pada Juni 2026, ketika PLN membutuhkan batu bara kalori menengah untuk proses pencampuran atau blending.

Pemerintah kemudian memberikan penugasan tambahan sebanyak 16,8 juta ton batu bara dengan kalori di atas 4.500 kcal/kg untuk PLN hingga Desember 2026 guna mengatasi kendala pasokan PLTU dan mencegah pemadaman bergilir.

“Persoalan PLN bukan hanya berapa ton, tetapi juga berapa kalori. Batu bara jenis MRC dan HRC adalah barang langka. Kalau tidak diprioritaskan untuk PLTU, batu bara ini akan mengalir ke ekspor karena harganya jauh lebih menarik,” ujar Marwan.

Menurut IRESS, harga batu bara untuk kebutuhan listrik melalui skema domestic market obligation (DMO) ditetapkan sebesar US$70 per ton, sedangkan Harga Batu Bara Acuan periode pertama Juni 2026 mencapai US$84,53 per ton untuk kalori 5.300 kcal/kg dan US$121,83 per ton untuk kalori 6.322 kcal/kg.

IRESS merekomendasikan agar penugasan DMO mencantumkan spesifikasi kalori yang dibutuhkan setiap PLTU, bukan hanya volume, serta ekspor batu bara MRC dan HRC dilakukan setelah kebutuhan PLN terkonfirmasi sesuai Pasal 158 PP Nomor 39 Tahun 2025.

Selain itu, pemerintah diminta menyiapkan skema harga yang menjaga kelayakan bisnis pasokan MRC ke PLN, sementara PLN perlu mempercepat modifikasi atau retrofit PLTU agar dapat menggunakan batu bara berkalori lebih rendah, seperti yang telah dilakukan di PLTU Suralaya unit 6 dan 7.

“Prioritas ini bukan untuk selamanya. Selama retrofit PLTU berjalan, cadangan MRC dan HRC harus dijaga untuk listrik lebih dulu. Setelah pembangkit siap memakai batu bara kalori rendah, ruang ekspor bisa dibuka kembali,” kata dia.

IRESS menilai pengaturan pasokan berdasarkan kualitas diperlukan agar batu bara yang tersedia tidak hanya mencukupi dari sisi volume, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan teknis pembangkit listrik.