JAKARTA, Cobisnis.com – Anggota Komisi IV DPR RI Eko Wahyudi mengingatkan pemerintah untuk mengantisipasi potensi lonjakan harga pangan. Peringatan ini disampaikan seiring meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah yang berdampak pada stabilitas harga global.
Menurut Eko, pemerintah harus terus memantau perkembangan harga pangan dunia secara berkala. Langkah intervensi juga dinilai perlu dilakukan lebih cepat apabila kenaikan mulai terasa di pasar domestik.
Ia menilai pemerintah dapat memanfaatkan peran Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai bagian dari solusi. Lembaga ini dapat digunakan untuk menyerap hasil produksi dalam negeri guna menjaga keseimbangan harga.
Eko juga menyoroti kondisi harga telur yang sempat mengalami penurunan. Hal ini terjadi di tengah tren kenaikan harga pangan global yang justru menunjukkan arah sebaliknya.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat berdampak pada kerugian peternak. Apalagi, biaya produksi seperti harga pakan masih relatif tinggi di lapangan.
Untuk itu, ia mengusulkan agar program Makanan Bergizi Gratis (MBG) dimanfaatkan secara lebih optimal. Penyerapan telur oleh program ini dinilai dapat membantu menstabilkan harga sekaligus melindungi peternak.
Di sisi lain, data dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menunjukkan adanya kenaikan harga pangan global. Pada Maret 2026, kenaikan tercatat mencapai 2,4 persen secara bulanan.
Kenaikan tersebut dipicu oleh meningkatnya biaya energi akibat konflik di Timur Tengah. Kondisi ini dinilai dapat berdampak langsung pada biaya produksi dan harga pangan di dalam negeri.
Meski demikian, Eko mengapresiasi kinerja pemerintah dalam menjaga stok pangan nasional. Stok beras saat ini mencapai sekitar 4,6 juta ton dan dinilai masih cukup untuk memenuhi kebutuhan.
Ke depan, pemerintah juga diminta untuk mewaspadai potensi musim kemarau yang lebih panjang. Upaya mitigasi lintas sektor dinilai penting untuk menjaga produksi pangan tetap stabil dan berkelanjutan.