JAKARTA, Cobisnis.com - Memperingati Hari Keselamatan Pasien Sedunia 2026, Novo Indonesia mengajak masyarakat berperan aktif memastikan keamanan penggunaan obat, mulai dari memperoleh obat melalui jalur resmi hingga melaporkan dugaan efek samping.
Hari Keselamatan Pasien Sedunia diperingati setiap 17 September sebagai momentum global untuk meningkatkan pemahaman dan keterlibatan masyarakat dalam keselamatan pasien serta mendorong berbagai upaya untuk mengurangi risiko yang dapat dicegah dalam pelayanan kesehatan.
Peringatan tersebut ditetapkan oleh World Health Assembly pada 2019. Bagi masyarakat yang hidup dengan penyakit tidak menular atau noncommunicable diseases (NCDs), seperti diabetes dan obesitas, aspek keamanan pengobatan menjadi penting karena terapi dapat berlangsung dalam jangka panjang dan membutuhkan pemantauan secara berkelanjutan.
Novo Indonesia menempatkan keselamatan pasien sebagai salah satu prioritas dengan menjaga kualitas dan keamanan produk sejak proses pembuatan hingga digunakan oleh pasien.
Associate Director, Medical & Regulatory, Novo Indonesia, dr. Riyanny Meisha Tarlinan, mengatakan keselamatan pengobatan membutuhkan kolaborasi dan peran aktif dari berbagai pihak.
“Melalui kolaborasi dan peran aktif setiap pihak, kita dapat bersama-sama mendukung perjalanan pengobatan yang lebih aman bagi pasien. Bagi Novo, upaya tersebut dimulai dari penerapan proses dan standar kualitas sebelum produk dipasarkan, sistem untuk memastikan keaslian produk, upaya mendukung deteksi produk ilegal, hingga pemantauan keamanan setelah produk digunakan melalui tanggung jawab Pharmacovigilance.”
Pentingnya Memastikan Keaslian Obat
Masyarakat dapat berperan dalam menjaga keselamatan pengobatan dengan memastikan obat resep diperoleh melalui jalur resmi, memeriksa legalitas produk, serta menggunakannya sesuai resep dan anjuran tenaga kesehatan.
Seiring semakin beragamnya pilihan untuk memperoleh produk kesehatan, keabsahan dan sumber obat menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan. Masyarakat juga perlu memahami karakteristik produk ilegal serta risiko yang mungkin ditimbulkan.
Berdasarkan U.S. Food and Drug Administration (FDA), produk medis substandard dan falsified dapat mencakup produk palsu, produk yang diperoleh melalui jalur distribusi tidak resmi, produk yang sengaja dicampur, menjadi objek transaksi penipuan, atau produk yang tampak tidak layak untuk didistribusikan.
Sementara itu, World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa produk medis substandard dan falsified dapat mengandung bahan berbahaya atau memiliki dosis yang tidak tepat sehingga efikasi, keamanan, dan kualitasnya tidak terjamin.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan kegagalan pengobatan, memperburuk kondisi kesehatan, bahkan berisiko menyebabkan kematian.
Karena itu, masyarakat diimbau memperoleh obat melalui jalur resmi, termasuk apotek, klinik, telehealth, maupun rumah sakit yang berizin.
Keabsahan produk juga dapat diperiksa melalui situs Cek BPOM dengan memastikan nomor izin edar sebelum obat digunakan.
Masyarakat yang menemukan atau mencurigai produk ilegal dapat melaporkannya kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melalui kanal resmi, termasuk Halo BPOM di 1500533, WhatsApp +62 811-9181-533, email halobpom@pom.go.id, media sosial resmi BPOM, maupun Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK) BPOM, Balai Besar POM, Balai POM, atau Loka POM setempat.
Keselamatan Pasien di Setiap Tahapan
Direktur Pengawasan Keamanan, Mutu, dan Ekspor Impor Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif BPOM, Nova Emelda, S.Si., Apt., M.S., mengatakan pemantauan keamanan obat membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
"Keselamatan pasien merupakan tanggung jawab bersama yang perlu dijaga sepanjang siklus hidup obat, mulai dari memastikan ketertelusuran dan keamanan produk hingga pemantauan keamanannya setelah beredar melalui pelaksanaan farmakovigilans. BPOM mendorong masyarakat, tenaga medis, dan tenaga kesehatan untuk berperan aktif melaporkan setiap kejadian tidak diinginkan atau dugaan efek samping obat, karena setiap laporan menjadi informasi penting dalam pemantauan profil keamanan obat dan upaya perlindungan keselamatan pasien," ujar Nova Emelda, S.Si., Apt., M.S., Direktur Pengawasan Keamanan, Mutu, dan Ekspor Impor Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif.
Dalam menjaga ketertelusuran produk, Novo menerapkan sistem serialisasi sebelum produk didistribusikan ke pasar. Sistem tersebut memungkinkan produk dipindai melalui aplikasi BPOM Mobile untuk memverifikasi informasi seperti nomor izin edar (NIE), nomor bets, dan tanggal kedaluwarsa.
Setelah produk beredar, Novo juga bekerja sama dengan pemangku kebijakan untuk mendukung deteksi produk ilegal di platform daring.
Selain aspek keamanan produk, Novo berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai obesitas dan diabetes sebagai penyakit kronis, sekaligus memberikan edukasi berkelanjutan mengenai akses terhadap pengobatan yang aman dan inovatif.
Secara global, Novo memiliki tenaga profesional pharmacovigilance yang menjalankan proses dan sistem untuk mengumpulkan informasi keamanan serta data efek samping selama pengembangan klinis maupun setelah produk dipasarkan.
Di Indonesia, tim pharmacovigilance Novo bekerja sesuai ketentuan BPOM, termasuk menerima dan menindaklanjuti laporan mengenai kemungkinan efek samping. Informasi tersebut membantu pemantauan profil keamanan produk secara berkelanjutan.
Ketika mengalami kejadian tidak diinginkan atau efek samping setelah menggunakan obat, pasien dianjurkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Pelaporan dan konsultasi tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keselamatan pasien sekaligus mendukung pemantauan keamanan produk.
“Keselamatan pasien dimulai dari setiap keputusan dan tindakan dalam perjalanan pengobatan. Oleh karena itu, kami terus berupaya memastikan kualitas dan keamanan produk, sekaligus mendorong pasien untuk lebih aktif menjaga keselamatannya dengan memperoleh obat dari sumber tepercaya dan selalu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan di sepanjang tahapan pengobatan,” tutup dr. Riyanny.