Namun, pernyataan tersebut diragukan Alex Vatanka, senior fellow di The Middle East Institute, yang menilai klaim Trump lebih menyerupai harapan daripada target yang realistis.
“Saya sendiri bereaksi dengan bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya dibicarakan presiden Amerika itu?” kata Vatanka, dikutip dari berbagai sumber, Kamis (10/9/2026).
Vatanka mempertanyakan kemungkinan Iran menjadikan pemilu kongres AS pada 3 November sebagai faktor utama dalam menentukan berakhirnya konflik.
Menurutnya, Iran kemungkinan akan menunggu hasil diplomasi yang dapat dianggap menguntungkan bagi negaranya, termasuk penyelesaian persoalan pembukaan kembali Selat Hormuz dan masa depan program nuklir Iran.
Ia menilai perang baru dapat benar-benar berakhir apabila AS dan Iran kembali ke meja perundingan dan menemukan titik temu.
“Itu hanya akan berubah jika negosiasi dilanjutkan. Kedua pihak mungkin harus bersedia menemukan titik temu. Begitulah cara mengakhiri perang ini untuk selamanya,” ujarnya.
Vatanka juga melihat pernyataan terbaru Trump sebagai indikasi bahwa AS berharap sanksi dan tekanan ekonomi dapat membuat Iran menyerah.
Namun, strategi tersebut dinilai belum memberikan kepastian bahwa tekanan ekonomi akan mengubah sikap Teheran.
“Namun sekali lagi, itu hanya sebuah harapan karena tidak ada yang tahu,” tandas Vatanka.