Remaja Singapura Bobol Bitcoin Rp4,2 Triliun, 28 Mobil Mewah Ikut Disita

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 10 Sep 2026, 13:45 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Remaja asal Singapura, Malone Lam, terlibat dalam pencurian Bitcoin senilai US$245 juta atau sekitar Rp4,2 triliun di Amerika Serikat. Uang hasil pencurian tersebut digunakan untuk membeli berbagai barang mewah.

Kementerian Kehakiman Amerika Serikat menyebut Lam dan rekan rekannya membeli mobil dengan harga mulai US$100.000 hingga US$3,8 juta. Petugas kemudian menyita 28 mobil mewah yang diduga berkaitan dengan hasil kejahatan tersebut.

Armada yang disita mencakup Rolls Royce, tujuh Lamborghini, beberapa Ferrari, serta mobil sport Pagani. Nilai kendaraan tersebut mencapai puluhan miliar rupiah untuk unit dengan harga tertinggi.

Lam dan kelompoknya juga disebut menggunakan uang hasil pencurian untuk berfoya foya di kelab malam. Pengeluaran mereka bahkan mencapai US$500.000 atau sekitar Rp10 miliar dalam satu malam.

Selain kendaraan dan hiburan malam, uang tersebut digunakan untuk membeli barang barang mewah lainnya. Mereka juga disebut mengeluarkan dana untuk menyewa jet pribadi.

Atas kasus tersebut, Lam menghadapi ancaman hukuman hingga 20 tahun penjara atas tuduhan konspirasi pemerasan dan pencurian kripto. Dalam persidangan di Pengadilan Distrik Columbia, Lam mengaku bersalah.

Jaksa Amerika Serikat Jeanine Pirro mengatakan Lam memimpin jaringan internasional yang menargetkan korban melalui penipuan dan pelanggaran privasi. Jaringan tersebut disebut berhasil mencuri mata uang kripto senilai ratusan juta dolar.

"Jika Anda membangun kerajaan kejahatan siber, kami akan melacak Anda, membongkar operasi Anda, dan meminta pertanggungjawaban," kata Pirro.

Dalam menjalankan aksinya, Lam menggunakan sejumlah nama samaran, termasuk Anne Hathaway, $$$, dan King Greavy. Ia memanfaatkan pengetahuan mengenai perangkat lunak dan teknologi komputer untuk mencari informasi mengenai pemilik aset kripto dan individu dengan kekayaan tinggi.

Lam dan rekan rekannya kemudian menargetkan orang orang tersebut untuk mendapatkan informasi rahasia. Mereka disebut membobol rumah korban untuk memperoleh rincian yang dapat digunakan untuk mengakses dan menguras dompet kripto.

Kasus ini memperlihatkan bagaimana kejahatan siber dapat menyasar pemilik aset kripto dengan nilai sangat besar. Di sisi lain, hasil kejahatan tersebut justru digunakan untuk membiayai gaya hidup mewah sebelum akhirnya terungkap dan disita aparat.